Selasa, 02 Desember 2014

Terbangun - Bagian 5

Aku tidak bisa melupakan mimpi itu-tentang Cynthia. Semakin aku ingin menghapus mimpi itu dari ingatanku semakin aku gila untuk mengingatnya. 
Aku duduk merenung menatap sendok yang kuputar-putar dalam semangkuk apuden-sejenis bubur berwarna merah muda dengan kuah susu. Aku duduk di deretan bangku kantin dekat dengan ujung deretan lemari-lemari nutrisi pada salah satu bagian sudut dalam kantin. Kantin ini terletak di lantai empat bersebelahan dengan ruang server jaringan sistem sensor dan komputer di markas ini. Ruang kantin adalah satu-satunya ruangan di markas ini yang warna dindingnya tidak putih melainkan kuning pucat, lantainya juga tidak putih melainkan marmer berwarna kehijau-hijauan.
Setiap pagi kantin ini selalu ramai. Kami terbiasa sarapan pagi bersama walaupun kami bisa melakukannya di dalam kamar kami masing-masing - setiap kamar memiliki lemari nutrisi. Kami berusaha melakukan hal-hal yang biasa kami lakukan di tempat asal kami semata-mata agar kami merasa tetap hidup.
Aku duduk semeja dengan Jhoni dan Samuel. Mereka sedang bercanda, tertawa, saling mengejek satu sama lain, sementara aku masih menatap sendok yang aku putar-putar. Aku benar-benar tidak mendengar gelagak tawa mereka-aku tidak mencoba mendengarkan mereka. Aku merasa tidak di sini melainkan di dalam duniaku sendiri yang sunyi, yang membingungkan, yang penuh dengan tanda tanya di setiap kelok jalan yang aku temui.
"Hei bro, ada apa?" cetus Jhoni sambil menatap ke arahku. Suaranya menarik jiwaku yang sedang berkeliling di dunia antah-berantah dan kembali ke sini, ke markas ini.
"Kenapa kau melamun? Adakah yang mengganggu pikiranmu?" tanya Samuel.
"Oh, hmm, aku tidak apa-apa."
"Apakah kau tidak tidur dalam kapsulmu semalam?" Jhoni mengernyit.
Aku tahu bahwa jika aku tidak tidur dalam kapsulku, maka aku akan kacau, tidak konsentrasi, dan cepat lelah sepanjang hari. Kapsul lah yang benar-benar bertindak sebagai healer kami. Tapi aku tahu maksud lain pertanyaan Jhoni dari ekspresinya.
"Aku tidur di kapsulku."
"Apa kamu yakin si gadis itu tidak mengunjungi kamarmu semalam? Sehingga kau lupa tidur dalam kapsulmu," tanya Samuel sambil melengkungkan bibirnya menahan tawa.
Sudah kutebak, kesitu arah pembicaraan ini.
"Apa maksudmu Sam," akhirnya tawaku membuncah. "Tidak ada gadis yang datang ke kamarku semalam."
"Apa kau yakin? Apa kau tidak ingin menceritakan pada kami?" tanya Jhoni sambil senyum-senyum.
"Apa yang harus aku ceritakan pada kalian?" kataku sambil tertawa.
"Ya, semacam aksi heroikmu semalam bersama gadis itu," cetus Samuel.
Tawa pun membuncah di antara kami bertiga. Aku tidak mengerti bagaimana mereka selalu berhasil membuat aku tertawa, meski aku sedang dalam pikiran yang menceracau pada diriku sendiri. Jhoni dan Samuel memang kombinasi dua pelawak yang hebat-lebih tepatnya pembuli.
"Oh, jadi aku harus membuat semacam cerita palsu yang romantis dan hangat tentang tidurku semalam begitu?" kataku sambil terkekeh-kekeh menahan tawa.
"Ya, semacam itulah yang kami," kata Samuel yang masih tergelak-gelak sambil silih berganti menatap ke arahku dan ke arah Jhoni.
"Oke bro, aku rasa kita cukupkan dahulu sendau gurau kita kali ini. Dan lihat, gadis itu benar-benar kemari sekarang." Jhoni menunjuk ke arah Evelin yang memang sedang berjalan menuju ke arah kami melewati meja-meja kantin.
"Now, it's time to rock Bro!" Samuel tersenyum, saat akan berdiri sambil membungkuk ke arahku dia menggenggam tangannya dan menjotoskan ke udara di depan mukanya.
"Hei, kalian mau kemana?" aku protes kepada mereka karena akan meninggalkanku yang belum selesai menghabiskan semangkuk apuden ini.
Sambil mengangkat mangkuk dari meja Jhoni berkata, "Kami tidak akan mengganggu pembicaraan kalian tentang rencana kunjungan malam kalian."
Jhoni dan Samuel meninggalkanku sambil membawa mangkuk-mangkuk mereka untuk dikembalikan di tempat pencucian. Aturan bagi semua orang di markas ini adalah menaruh alat makan yang telah selesai dipakai ke tempat pencucian dan tidak perlu mencucinya, sebab sudah ada mesin robot yang menanganinya.
Aku tahu sekarang, yang dimaksud si gadis itu oleh Jhoni dan Samuel adalah Evelin. Aku pernah mendengar rumor bahwa Evelin menyukaiku. Hanya saja aku tidak pernah menganggap hal itu serius, aku menganggap itu hanyalah sebuah gossip. Memang sih, wanita yang paling dekat denganku selama ini hanyalah Evelin. Mungkin itu juga yang membuat semua orang di sini mengira bahwa aku pacaran dengannya.
Secepat kilat, aku terasing lagi dalam duniaku. Gelak tawa yang membuncah beberapa menit lalu telah lenyap. Kesunyian dan kebingungan kembali menelanku bulat-bulat. Ini tidak sekedar siapa aku, kenapa aku beda, tetapi juga tentang mimpi bertemu Cynthia semalam.
"Hai Ryan," sapa Evelin sambil tersenyum.
"Hai Evelin," sejenak aku menatap lengkungan bibirnya yang manis itu.
"Bolehkah aku duduk semeja denganmu?"
"Ya, tentu saja boleh. Silahkan duduk."
"Terima kasih." kata Evelin sambil meletakkan mangkuk apudennya di meja.
Evelin duduk di bangku tepat di depanku.
Beberapa detik berlalu, dan kami hanya diam. Aku memandangi sendok yang aku putar-putar lagi di mangkuk apudenku. Aku tahu Evelin beberapa saat memandangiku, tetapi aku tidak bisa keluar dari dunia yang membuat pikiranku terjebak di sana.
"Ryan, ada masalah apa?"
Aku diam, bukan berarti aku tidak mendengar pertanyaan Evelin. Hanya saja aku tidak ingin menceritakan padanya masalahku ini-kecuali dipaksa. Evelin adalah sahabat dekatku. Tidak susah baginya memaksaku untuk menceritakan masalahku, apapun itu. Di antara kami berdua tidak ada rahasia-kecuali dia berniat merahasiakan sesuatu.
"Ayolah Ryan, ceritakan padaku masalahmu," Evelin mengerutkan dahinya. "Selama ini kita selalu berbagi, tidak ada hal sekecil apapun yang kita tutup-tutupi satu sama lain."
"Aku oke, tidak ada apa-apa kok."
"Sayangnya, kau tidak bisa berbohong padaku Ryan." tatapan matanya penuh harap padaku. Dan aku merasa bersalah jika membuat harapan itu kosong.
Begitulah Evelin, sekecil apapun masalahku dia akan tahu aku berbohong jika aku tidak menceritakannya.
"Aku akan bantu semampuku untuk menyelesaikannya, aku janji," tambah Evelin.
"Setelah kekalahan kita kemarin, aku tidak tahu kenapa aku jadi sering memikirkan siapa aku, kenapa aku beda dari yang lain, dan lebih sering teringat Cynthia bahkan sampai terbawa mimpi," akhirnya aku membuka mulut, lagi-lagi aku gagal menahannya.
"Ryan, jangan berpikir aneh-aneh deh. Kau itu Ryan, bukan siapa-siapa lagi. Kau juga tidak beda, kau bagian dari Astana Guard, kau adalah keluarga kami, kau adalah bagian dari peduduk kota Astana," Evelin mencoba meyakinkan keraguanku. "Soal Cynthia, aku tidak tahu, seharusnya ingatanmu tentang dia sudah lama hilang, seharusnya tinggal namanya saja yang tersisa di memorimu."
"Tidak, aku tahu aku beda, Jhoni pernah bilang padaku bahwa aku beda. Seluruh tentara pria Astana Guard adalah duplikat dari Jhoni dan tentara wanitanya duplikat dari kau Evelin. Semua perawat juga sama persis, seluruh petani juga sama persis untuk laki-lakinya begitu juga yang perempuan, seluruh wanita pengasuh, seluruh laki-laki pekerja bangunan, seluruh pekerja di lab, semua orang sama persis dengan orang-orang tempat dimana ia bekerja," aku menghela nafas sejenak.
Evelin hanya diam, mungkin dia sedang memikirkan apa yang sedang aku pikirkan sekarang.
"Bahkan musuh kita, pasukan Keinquish, mereka juga mirip, tak ada yang beda satupun. Sementara aku, tidak mirip dengan siapa pun di dunia ini. Aku ragu bahwa aku adalah penduduk kota Astana, sama halnya aku meragukan para pemimpin kita yang juga berbeda dengan para penduduk lainnya," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, meluncur tanpa gesekan di atas lidahku.
"Ya, aku menyadari bahwa kau memang beda Ryan. Aku juga tidak tahu kenapa. Para pemimpin memiliki tujuan dalam menciptakan kita, dan yang paling menjijikkan adalah hal itu tak pernah kita pahami," Evelin bicara perlahan-lahan.
"Kemudian, aku juga merasa ada yang ganjil dengan diriku, hal-hal tentang Cynthia yang seharusnya aku sudah lupa, sekarang aku mengingatnya lagi."
"Ryan, aku pikir lebih baik kau jangan terlalu memikirkan pertanyaan-pertanyaanmu itu. Ini akan membuat kau semakin gila, ada jutaan benang kusut di dalamnya. Sekarang lebih baik kita konsentrasi pada pertempuran ini dan lalu pulang ke kota. Aku janji, aku akan bantu mencari jawaban dari seluruh pertanyaanmu setelah di kota nanti."
"Iya sih. Kau benar Evelin."
"Mungkin juga kau terlalu frustasi dengan kekalahan kemarin, sehingga pikiranmu kacau kemana-mana,"sahut Evelin.
"Entahlah, aku juga tidak ingin memikirkannya, tetapi..." belum selesai aku mengatakannya, Evelin sudah menyela.
"Sudah, nanti malam aku akan berkunjung ke kamarmu. Mungkin kita bisa ngobrol sebentar sebelum kau tertidur, aku pikir itu akan membantumu melupakan pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga tidak akan menghantui tidurmu" kata Evelin menenangkanku sambil mengelus lenganku.
"Tidak usah repot-repot Evelin, selama ini kau terlalu baik padaku."
"Apakah aku juga harus menyebutkan bagaimana kau juga sangat baik padaku? Ryan, bagiku tidak ada kata tolong-menolong lagi di antara kita. Persahabatan itu seharusnya lebih dari sekedar tindakan saling berbalas kebaikkan."
"Ya, kau benar. Terima kasih Evelin, aku merasa bebanku sudah berkurang setengahnya sekarang."
"Sama-sama, begitulah gunanya teman. Ayo habiskan apudenmu, aku rasa ia akan segera menjamur karena kau biarkan mendingin di mangkuk," Evelin tersenyum ke arahku.
"Ya, aku rasa ini sudah menjamur. Hahahaha," aku tertawa mendengar kata menjamur meletup dari mulutnya.

Bersambung...........

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog