Jumat, 14 November 2014

Terbangun - Bagian 3

Aku membuka mata saat cahaya kuning redup di dalam kubah penutup kepala ini padam. Tatapan mataku mengikuti gerakan kubah penutup kepala ini saat bergeser, membuka wajah ini sehingga aku bisa melihat plafon kamarku sekarang. Sebuah titik tak kasat mata semakin lama semakin menampakkan diri pada plafon tepat di atas wajahku. Aku mengerjap, seketika titik itu lenyap. Dua jam telah berlalu setelah aku menyetting sistem pemrograman pada tempat tidurku yang berbentuk setengah potongan melintang kapsul ini.
Aku teringat saat mengikuti pelajaran biologi, bahwa anak ayam terlahir ke dunia setelah ia memecahkan cangkang yang mengurung tubuhnya. Bagitulah rasanya setiap bangun tidur dari tempat tidur berbentuk setengah potongan melintang kapsul berwarna putih ini. Seolah-olah aku baru saja terlahir ke dunia yang baru, hanya saja aku tidak perlu memecahkan cangkang ini.
Bagian dalam kapsul ini merupakan busa yang sangat empuk, dimana di bawah busa itu terdapat banyak rangkaian sensor yang akan menetralkan ion-ion yang tidak seimbang pada setiap sel tubuhku. Aku bisa saja menyetting waktu istirahatku kapan saja, maka sistem pemrograman di dalam kapsul ini akan membangunkanku tepat waktu, namun bukan berarti aku tidak dapat bangun semauku.
Aku melepas sensor yang menempel pada kedua pelipisku dan duduk dengan meluruskan punggungku. Rasa nyeri di bahu kiriku sudah hilang setelah terapi tadi sore. Aku juga tidak dapat melihat bekas luka itu lagi. 
Aku duduk menyamping di kapsulku dengan kedua kakiku menginjak lantai. Lantai-lantai di markas ini selalu terasa dingin. 
Sesaat pandanganku ke arah meja kaca di sebelah kapsulku. Di sana aku menatap logam bulat lonjong yang tadi keluar dari bahu kiriku saat aku diterapi. Logam itu aku simpan dalam sebuah tabung kaca dengan penutup berbahan plastik berwarna merah. Warna logam itu hijau keabu-abuan. Ukurannya tidak terlalu besar, diameternya lebih kecil dari diamter pensil kayu dan panjangnya kira-kira satu setengah senti. Aku sengaja melarang Silvia membuangnya. Aku pikir itu berarti bagiku, mengingatkanku, bahwa aku bisa saja terluka, dan bahkan mati kapan saja dalam latihan ini.
----------------------------------ooo000ooo----------------------------------

Tepat pukul 08.00 malam aku melakukan pertemuan dengan para Co-Leader dan Elder di Hall Rajawali. Hall ini berada di lantai dua. Ruangan ini memang didesain untuk ruang pertemuan dengan susunan kursi yang mengelilingi sisi luar meja kaca berbentuk U. Semua bagian meja kaca di depan kursi masing-masing peserta pertemuan dapat menampilkan sebuah monitor transparan vertikal di depan muka mereka.
Saat aku masuk ke Hall Rajawali, sudah ada sepuluh Co-Leader dan dua puluh Elder menungguku di sana. "Selamat malam Leader!" mereka secara serentak menyapaku.
Sejenak aku menatap satu setengah lusin Jhoni yang lain dan selusin wanita seperti Evelin. Bagaimana bisa mereka identik satu sama lain sementara tidak ada satupun yang mirip denganku? Aku beda. Dan kenapa aku beda? Mungkin takdirku telah ditulis seperti ini.
"Selamat malam," sebenarnya aku merasa aneh dengan ucapan selamat malam. Kami semua tidak tahu apakah saat ini benar-benar waktu malam di tempat asal kami. Di sini kami hanya menggunakan waktu yang diatur oleh sistem sensor dan jaringan komputer kami. Setahuku ada selisih waktu antara di sini dengan tempat asal kami.
"Baiklah mari kita mulai rapat kita ini," aku duduk di kursiku di bagian dasar huruf U, lima orang Co-Leader di samping kananku dan lima orang Co-Leader lagi di samping kiriku, dan para Elder terbagi dua pada sisi kanan dan kiriku hingga ujung meja. "Sebelum ke inti pokok masalah, aku ingin mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya anggota tentara kita, mereka adalah sahabat kita, keluarga kita." Aku memandang sekilas ke seluruh peserta pertemuan, berharap ada satu sosok saja yang mirip denganku.
Dengan serentak mereka mengepalkan tangan di depan jantung mereka seraya mengucapkan, "Kami merindukan mereka berjuang bersama kami mewujudkan takdir yang telah ditulis oleh para pemimpin kami."  Begitulah ritual para warga di Pulau Astana ketika melepas kepergian teman-temannya.
Aku mengaktifkan monitor transparan di mejaku dengan mengucapkan "Activation screen!", lalu diikuti peserta lain. Sistem sensor dan jaringan komputer memiliki cara mereka sendiri mengenali suara masing-masing dari kami dan lalu memunculkan monitor transparan satu per satu di hadapan kami.
"Baiklah, di monitor kalian sudah tampak peta daerah kekuasaan Keinquish dan di sinilah kita dibantai habis oleh pasukan mereka," aku menekan monitor transparan itu tepat pada tulisan Lembah Almainder dan menimbulkan efek lingkaran biru pada bagian itu di semua monitor peserta rapat. "Selama ini yang kita tahu, mereka tidak pernah sejauh ini keluar dari markas mereka."
"Iya Lead, pertama kalinya aku harus bertempur dengan mereka di lembah ini." sahut Arya Sentanu. Dia salah satu Co-Leader paling tua, dua puluh enam tahun.
"Mungkin mereka telah membuat pos-pos penjagaan di sana," imbuh Rita Setiadi, salah satu Co-Leader juga.
"Bagaiman kau bisa tahu bahwa mereka membuat pos-pos penjagaan di sana, Rita?" aku menoleh ke arah Rita. Dia duduk di sebelah kiriku, ada Jonathan Sutoyo dan Samuel Tjahyadi yang duduk antara aku dan dia. Rita adalah satu-satunya Co-Leader yang seumuran denganku.
"Aku tidak mengerti Lead, mereka muncul tiba-tiba di tengah-tengah kita ketika kita sedang lengah."
"Iya benar, aku melihat mereka muncul dari sebuah lapisan hologram tipis secara tiba-tiba," Bima Raharja menguatkan jawaban Rita.
"Apakah menurutmu mereka menggunakan semacam lapisan anti deteksi radar?" aku mengernyit ke arah Co-Leader Bima.
"Mungkin," Bima membuka kedua telapak tangannya sambil mengangkat bahunya.
"Mungkinkah mereka telah menggunakan teknologi yang sedang dikembangkan oleh ilmuwan kita?" tanya Jhoni.
"Itu bisa saja terjadi, semua itu tergantung kehendak pemimpin kita," jawabku datar sambil kutatap lekat-lekat sekumpulan bunga anyelir warna-warni di tengah ruangan itu. Bunga-bunga itu sepertinya juga sedang memikirkan nasib kami, memberitahu kami bahwa kehendak para pemimpin kami tidak dapat ditebak, apalagi ditolak. Semacam sudah menjadi naluri alami untuk menerima segala takdir yang ditentukan oleh mereka.
"Apakah mereka menginginkan kita mati?" tanya seorang Elder wanita, Linda Nurman.
"Iya benar, bagaimana kalau mereka menginginkan kita mati?" imbuh Samuel, matanya membelalak menatapku.
"Tidak, tidak mungkin. Mereka hanya ingin memberi tantangan yang lebih dari biasanya kepada kita. Ini bertujuan agar tentara AG menjadi lebih baik lagi," aku berusaha menenangkan kekhawatiran mereka, meskipun aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku berkata seperti itu. Ada kekhawatiran juga dalam diriku. "Yang kita perlukan saat ini adalah keyakinan dan strategi baru untuk melumpuhkan Keinquish. Dan pulang ..."
"Iya benar kata Leader. Apapun yang terjadi kita harus mengalahkan mereka. Kita tidak akan bisa kembali ke kota Astana tanpa kotak transmit sialan itu," dengan penuh kemantapan Siska Herdian berbicara sembari berdiri dan mengangkat tangan kanannya yang mengepal.
"Tetapi Leader, jumlah tentara kita tinggal 220 orang. Bagaimana mungkin kita akan menang?" sela seorang Co-Leader tepat di sebelah kananku, Pandhu Hirata, sambil menekan pada layar monitor untuk menampilkan data tentara yang masih aktif.
"Aku pikir kita harus minta tentara tambahan kepada para pemimpin, Leader," kata Jhoni sambil memegangi bandul kalungnya.
"Iya Leader, aku setuju dengan pendapat Co-Leader Jhoni, soalnya anggota pletonku tinggal delapan orang," imbuh seorang Elder, I Wayan Saputra, sambil mengangkat tangannya.
"Bagaimana menurutmu Co-Leader Jonathan Sutoyo?" aku menoleh ke arah Jonathan. Dia ahli dalam jaringan komputer dan satu-satunya orang yang tahu mekanisme meminta tentara tambahan kepada pemimpin.
"Apakah ini berarti kita harus melatih tentara baru lagi sebelum kita berperang?" Jonathan membalas tatapanku dengan kedua tangannya disilangkan di depan dadanya.
"Jika memang harus seperti itu, apa boleh buat?" jawabku.
"Bukankah itu membutuhkan waktu yang lama Lead?" tiba-tiba Monica Sitohang angkat bicara. Dia adalah Co-Leader yang paling pendiam, namun paling kejam pada anggotanya jika anggotanya melakukan kesalahan.
"Benar Lead, ini seperti kita latihan dari awal lagi, sementara musuh telah di depan meninggalkan kita," sahut Evelin.
"Aku tahu. Sebagai seorang Leader, ini adalah sebuah situasi yang sulit. Tapi kita butuh tentara tambahan, jumlah kita terlalu sedikit untuk dihabisi oleh pasukan Keinquish."
"Baiklah, malam ini juga akan kukirim sandi-sandi permintaan kepada para pemimpin kita. Semoga besok pagi mereka sudah mengirim pasukan tambahan," Jonathan akhirnya menyetujui ide itu.
"Baiklah, besok aku tunggu kabar darimu Jonathan. Lalu bagaimana dengan persedia senjata kita Bima?" aku menoleh ke arah Bima sekarang. Dia lebih sering berhubungan dengan para ilmuwan dan teknisi yang bekerja di lab senjata di lantai bawah.
"Mereka sedang mengembangkan software senjata tak kasat mata, dan sedang memecahkan syntax-syntax yang masih error ketika men-sinkronisasi senjata tersebut ke tubuh manusia. Sementara para teknisi sedang memproduksi kendaraan tempur kita dalam jumlah banyak, setelah semua kendaraan tempur kita hancur pada pertempuran tadi siang, kita tidak punya stok lagi."
"Baiklah kalau begitu. Ada hal lain yang perlu kita bahas lagi?" aku bertanya kepada seluruh peserta.
Rapat pun terus berlanjut, kami membahas tentang senjata pasukan Keinquish yang aneh, yang tiba-tiba muncul dari tangan kosong. Selain itu kami membahas tentang agenda latihan yang akan kami berikan pada tentara baru nanti. Pertemuan pun berakhir tepat pukul 10.00.

Bersambung...

Link menuju--> Bagian 4

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog