Rabu, 12 November 2014

Terbangun - Bagian 1

Dalam heningnya sepi, tiba-tiba suara ledakan memekik di telinga. Nafasku tersengal-sengal. Aku tergeletak di antara belasan mayat yang mengerikan. Aku memandangi langit yang begitu kelam penuh dengan asap hitam dan bola-bola api beterbangan.
Aku pikir aku tadi pingsan. "Berapa lama aku pingsan?", tanyaku lirih pada diri sendiri. "Tidak, tidak, aku sedang memimpin pasukan." Aku mencoba bangun. "Ah, sialan!" bahu kiriku sakit menggelanyar hingga terasa di sekujur tubuhku saat aku mencoba menggunakan kedua lenganku untuk tumpuan.
"Brengsek, ternyata aku tertembak." Dengan susah payah aku pun bangkit dan duduk di sebelah mayat seorang tentara yang kepalanya hancur berantakan. Sesaat aku memandangi mayat itu, darah dan bagian otaknya berceceran dimana-mana. Cukup membuatku begidik.
Banyak tentaraku yang tewas tergeletak dengan wujud mengerikan. Bahkan aku sungguh tidak ingin berlama-lama berada di sini, meskipun dalam beberapa menit lagi mayat-mayat itu akan menghilang.
"Munduuurr, seluruh pasukan Astana Guard kembali ke garis aman!" aku berteriak.
Benar-benar sebuah serangan tiba-tiba yang membabi buta. Aku dan seluruh tentaraku seperti masuk dalam sebuah jebakan.
Padahal kemarin aku sudah memperhitungkan bahwa Pasukan Keinquish tidak akan keluar dari wilayahnya sejauh ini - hingga lembah Almainder. Kami akan merangsek ke wilayah mereka dan memenangkan peperangan ini. Kami akan merebut wilayah Keinquish dan merebut kotak transmit agar kami bisa kembali ke kota lagi seperti yang sudah-sudah kami lakukan di setiap latihan. Namun, baru kali ini pasukanku kocar-kacir dibombardir oleh Pasukan Keinquish.
Tiba-tiba saja, suara tembakan dan ledakan bom mulai berkurang. Aku memandang ke langit, tidak banyak bola-bola api beterbangan lagi. Terasa aneh memang, sebab dari tadi pasukan Keinquish tak henti-hentinya memborbardir kami dan untuk saat ini tiba-tiba berhenti menyerang. "Leader, ayo cepat kita kembali ke markas!" teriak seorang tentara yang samar-samar aku melihatnya berjalan terhuyung-huyung dari sisi kiriku.
"Aku tertembak."
Setelah mendekat, aku tahu bahwa dia adalah Jhoni.
"Okeh, aku bantu anda berdiri," nada suara Jhoni gemetar penuh ketakutan, padahal dia adalah salah satu tentara terbaikku. Dia salah satu Co-Leader di pasukan Astana Guard (AG) kami.
Astana Guard adalah sekelompok tentara elit di tempat asal kami, Kota Astana di Pulau Astana. AG dipimpin oleh seorang Leader yaitu aku dan sepuluh Co-Leader lain. Terdapat juga dua puluh Elder yang merupakan ketua dari sebuah pleton beranggotakan dua puluh tentara.
Leader adalah pemimpin tertinggi di AG yang bertanggung jawab langsung kepada seorang Co-Mayor, yaitu kepala Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam). Co-Leader adalah  wakil dari Leader yang membidangi keahlian dan kemampuan masing-masing seperti ahli menembak, memanah, strategi, komunikasi, persenjataan, instalasi program, dan lain-lain. Sementara seorang Elder adalah penggerak dari sebuah pleton itu sendiri, tanpa seorang Elder pasukan di dalam Pleton tidak terprogram dengan baik.
Anggota AG tidak hanya pria tetapi juga wanita. Baik tentara pria maupun wanita memiliki kedudukan setara sesuai jabatannya. Semua tentara pria memiliki rupa dan bentuk tubuh yang sama, begitu juga tentara wanita. Hampir tidak bisa membedakan orang yang satu dengan yang lainnya, beruntung teknologi telah membantu kami dalam mengenali identitas setiap orang.
Perang ini sebenarnya hanya sebuah latihan untuk meningkatkan skills berperang kami. Meskipun hanya sebuah latihan, tetapi ini mengerikan, sebab kami benar-benar akan kehilangan beberapa teman kami jika mereka mati dalam latihan ini.
Musuh kami adalah Pasukan Keinquish, sebuah pasukan yang disiapkan oleh para pemimpin di kota kami untuk kami lawan dalam latihan. Para pemimpin akan selalu memperbaiki kemampuan perang pasukan ini, dan tugas kami adalah mengalahkannya.
Jhoni pun segera memapahku berdiri. "Thanks Jhoni." Setelah aku benar-benar berdiri aku merasakan sakit lagi yang menggelanyar dari bahu kiriku,"Ahrrg...."
"Apakah anda tidak apa-apa Lead?" sorot mata Jhoni penuh dengan kekhawatiran melihat keadaanku.
Selama ini yang aku tahu dari seorang Jhoni adalah seseorang yang memiliki keberanian dan kepercayaan diri sangat tinggi. Meskipun umur Jhoni terbilang lebih tua dari umurku, dua puluh tahun, kira-kira dua tahun lebih tua daripada umurku, tetapi dia selalu menunjukkan rasa hormat padaku.
Tubuh Jhoni dan seluruh tentara pria lainnya lebih tinggi dari tubuhku, kira-kira lebih 5 cm. Aku selalu mendongak ke atas jika berbicara menatap muka mereka. Meskipun Jhoni menggunakan seragam pasukan AG - setelan berlengan panjang berwarna serba putih dengan corak warna perak pada bagian tengah depan dan pada sisi lengan kanan-kiri atas ditempel lambang Dephankam berwarna hitam berupa sebuah tetesan air pada huruf G yang tertidur - tetap saja bahunya kelihatan kekar. Tangannya juga kelihatan penuh dengan otot yang besar seperti seorang binaragawan dan bahkan lebih besar dari tanganku. Sorot matanya tajam dikelilingi oleh bulu mata serta alis yang tebal, sorot mata yang penuh keyakinan itu selalu memancar dari wajahnya yang hampir berbentuk kotak di bawah rambutnya yang ikal hitam.
Namun, sekarang sorot matanya benar-benar seperti seorang yang sudah putus asa. Aku pikir aku juga sama dengan dia–setidaknya untuk saat ini. 
Aku hampir selalu menanyakan kepada Jhoni, kenapa selalu memakai kalung dengan bandul sebuah batu berbentuk sebuah tetesan air dengan garis miring di tengahnya dan berwarna hitam. Namun, pertanyaan itu masih kusimpan hingga sekarang saat aku memandangi kalung itu dari dekat.
"Iya, aku tidak apa-apa," Aku berusaha untuk tidak peduli dengan sakit yang menusuk-nusuk bahu kiriku, meskipun rasanya seperti telah menembus dan merobek paru-paruku. "Ayo kita bergegas ke markas. Bagaimana dengan Co-Leader yang lain? Bagaimana dengan para Elder kita? Berapa pasukan kita yang masih tersisa?" Sebenarnya ini hanya sebuah pertanyaan basa-basi, sebab aku bisa mengakses melalui otakku berapa orang dan siapa saja yang masih hidup.
Setiap dari kami memang ada sebuah koneksi jaringan antar otak yang kami sebut sebagai Inter Brain Connection (IBC). Koneksi ini berfungsi untuk mengenali identitas masing-masing dari kami, dan menyimpan sebuah memori tentang seseorang sudah mati atau masih hidup. Teknologi ini juga berfungsi untuk installasi program karakter pribadi dan kemampuan dasar setiap orang di Kota Astana.
"Para Co-Leader dan Elder masih bertahan semua, kalau jumlah tentara yang tersisa aku tidak tahu pastinya berapa Lead. Anda lebih baik dalam berhitung dari pada aku Lead." sepertinya Jhoni lelah untuk mengakses beberapa database dalam IBC sehingga dia berbicara seperti itu.
"Aku pikir, kami benar-benar akan kehilangan anda Lead. Kami seolah-olah tidak ada harapan lagi. Sehingga banyak dari kami yang putus asa. Apalagi menghadapi serangan pasukan Keinquish yang menggila itu," Jhoni menghela nafas. " Tidak ada lagi yang ahli strategi perang dan motivator handal seperti anda Lead. Anda adalah satu-satunya harapan kami." lanjut Jhoni sambil berjalan dan tetap waspada pada sekeliling. Dia tetap memegang erat rifle M4A1 dengan kedua tangannya dan memposisikan pangkal senjata itu di bahu kanannya.
"Terima kasih atas pujiannya Jhoni, tapi sepertinya itu tidak penting sekarang. Keinquish sudah lebih baik dan berevolusi sekarang, aku tidak mengerti cara infeksi mereka terhadap pasukan kita. Seolah mereka tiba-tiba muncul dimana-mana, menerjang, menyerang tanpa ampun, bahkan mampu memperbaiki diri ketika kita hancurkan mereka."
Sambil berjalan aku memegangi bahu kiriku dengan tangan kanan. Sakitnya masih menggelenyar, tetapi aku hampir-hampir dapat melupakan rasa sakit itu.
Di kejahuan kulihat sisa-sisa tentaraku sedang berjalan menuju arah yang sama denganku, ada yang jalannya terhuyung-huyung namun tetap waspada dengan senjata mereka masing-masing.
"Aku pikir juga begitu Lead, Keinquish tidak terbaca lagi gerakannya. Strategi dan senjata mereka juga aneh, bahkan aku tidak berpikir mereka memiliki senjata yang bermacam-macam dan sebanyak itu. Padahal aku melihat mereka bahkan tidak membawa senjata. Bagaimana mungkin tangan-tangan kosong mereka menembakkan bola-bola api? Aku benar-benar frustasi kali ini Lead!" gerutu Jhoni sambil menendangkan kakinya yang berotot itu ke sebuah rifle yang tergeletak di tanah hingga terlempar jauh, sepertinya itu rifle bekas tentara AG.
"Aku juga merasa aneh dengan hal itu Jhoni," aku menatap dengan muram ke arahnya.
"Aku yakin kau punya jawaban untuk segala keanehan ini Lead, mungkin tidak sekarang. Tetapi aku yakin kau akan mendapat jawabannya segera, Lead. Anda berbeda dengan kami." Jhoni membalas tatapanku penuh dengan harapan.
Begitulah Jhoni, terlalu yakin dengan seseorang, padahal saat ini aku juga sedang frustasi. Bagaimana aku tidak frsutasi, baru kali ini aku terjebak dalam permainan pasukan Keinquish dan bahkan aku jatuh pingsan dan mungkin hampir mati dalam ledakan bom yang entah tiba-tiba meledak dalam radius seratus meter di depanku.
Tiba-tiba aku teringat pada saat bom itu meledak saat itu pula aku tertembak pada bahu kiriku. Lalu pandanganku menguning, buram, dan lalu gelap.
Aku tidak membalas pernyataan terakhir Jhoni. Bahkan kami hanya berjalan dalam kebisuan hingga sampai di markas kami kira-kira dalam waktu satu jam. Justru aku sedang memikirkan pernyataan terakhir Jhoni bahwa aku berbeda dari yang lainnya. Ya, aku Ryan Shagara dan aku berbeda dengan lainnya.
Markas pasukan AG terletak di luar daerah Keinquish. Selama ini sih tidak pernah diendus oleh pasukan Keinquish. Selain letaknya di bawah bukit Minast, markas ini dilengkapi dengan teknologi keamanan mutakhir yang mampu meledakkan kepala siapa saja yang masuk ke wilayah ini jika dia tidak masuk dalam database komputer kami sebagai tentara AG.
Markas ini selalu menenangkan dan membuatku merasa damai jika menatap megah bangunannya yang berbentuk trapesium dan berwarna hitam mengkilap setinggi tujuh lantai. Jika dilihat dari kejauhan, markas dan bukit Minast ini akan terlihat seperti sebuah bukit yang berongga hitam di bawahnya. Sebuah bukit yang angker karena nampak melayang-layang di atas lubang hitam yang mampu menyedot setiap orang yang mendekatinya. Mungkin orang-orang Keinquish beranggapan seperti itu sehingga mereka tidak pernah mendekat ke sini.
Setelah kami tiba di markas, aku segera masuk melalui pintu utama dan berjalan menuju ke kamar medis. Pintu masuk ke markas ini ada empat buah. Tiga pintu di bagian depan dengan pintu tengah adalah pintu utama dan paling besar. Biasanya orang-orang keluar-masuk lewat pintu tengah ini, sementara dua pintu lainnya sebagai jalan keluar masuk kendaraan tempur kami. Pintu yang keempat terletak di belakang markas, tepatnya di bawah bukit dan terhubung dengan lorong-lorong yang begitu banyak membentuk labirin di bawah bukit dengan salah satu ujung lorong menembus hingga ke balik bukit. Aku belum pernah ke sana, ke ujung lorong yg menembus bukit Minast ini, aku terlalu sibuk dengan mengatur strategi dan latihan perang untuk melawan pasukan Keinquish. Kalaupun ada waktu aku lebih memilih beristirahat daripada menelusuri labirin alih-alih bermain petak umpat di sana.
Seluruh markas ini dipenuhi dengan sensor pengenal identitas dan kamera cctv, kecuali di dalam kamar pribadi. Rasanya sungguh lucu jika di kamar pribadi juga diberi alat sensor dan kamera cctv, kamu akan bercinta dengan kekasihmu sementara teman-temanmu asyik menontonnya.
Setiap orang yang ingin masuk ke markas ini tidak perlu mengetuk pintu, menekan tombol, scan kartu identitas, atau scan iris mata. Jika kamu adalah anggota tentara AG, maka seluruh sensor di tempat ini akan mengenalimu hingga bagian terkecil dari tubuhmu–DNA. Dan sensor-sensor ini sangat baik, dia akan membukakan pintu untukmu, melaporkan kesehatanmu langsung berdengung di telingamu, mengirim makanan untukmu, dan banyak hal lain, tentunya jika kamu menginginkannya.
Setelah aku memasuki pintu utama, rasanya jiwaku kembali, seolah menginjak emperan surga di sini. Lantai dengan keramik putih mengkilap, dan dinding serta langit-langit yang menjulang tinggi berwarna putih. Bisa dibilang dalam gedung ini semua serba berwarna putih. Kesejukan dan keheningan di dalam sini menghilangkan rasa lelah dan letih. Tempat ini memang diprogram seperti itu–menjadi healer bagi kami. Rasanya aku tak ingin keluar dari gedung ini jika sudah berada di dalamnya.

Klik untuk menuju --> Bagian 2

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog