Jumat, 21 November 2014

Terbangun - Bagian 4

Tiba-tiba aku terbangun di tengah malam, nafasku ngos-ngosan. "Huh, untung cuma mimpi." Aku menoleh pada dinding sebelah kiriku, pada bagian atas ada sebuah kotak jam digital berwarna putih dan hitam gelap pada bagian layar yang menampilkan angka berwarna biru itu. Pukul 02.01.
Tidak biasanya aku bermimpi hingga berkeringat seperti ini.
Aku melepas sensor yang menempel pada kedua pelipisku, lalu aku bangun menuju sebuah lemari nutrisi tepat di bawah kotak jam digital itu. Aku haus. Pintu bagian atas lemari itu bergeser dan di dalamnya ada sebuah pintu kaca bening. Aku melihat ke dalam lemari itu. Sebuah sensor nutrisi sedang memancarkan sinar membentuk sebuah botol berisi air. Di sini serba mudah, sensor-sensor lebih cerdas dari apapun.
Kuteguk air dalam botol itu hingga tangan-tangan dahaga yang menyekik leherku mulai lepas satu per satu.
Aku duduk di pinggiran kapsulku. Aku mengingat-ingat mimpi apa barusan. Aku ingat, tadi aku bermimpi bahwa aku menembak kepala seorang wanita. Aku tahu wanita itu adalah Cynthia, walaupun aku tidak dapat benar-benar melihat bagaimana wajahnya tetapi aku mengenalinya. Aku berusaha menolak, tapi tanganku tak dapat ku kendalikan. Tanganku seperti di bawah kontrol orang lain, bukan oleh diriku sendiri. Dan aku menembaknya, di depanku, saat dia menyimpulkan senyum manis seolah dia telah ikhlas mati di tanganku. Oh, kenapa aku bermimpi tentang Cynthia?
"Ryan.."
Tiba-tiba sebuah suara datang dari arah depanku. Suaranya lembut. Menenangkan, menggunggah jiwa yang kalut dan lalu bangkit menuju rasa damai.
Aku mendongak dan menatap seorang wanita berseragam AG berdiri di depanku, di dekat daun pintu kamarku.
"Cynthia... benarkah itu kau ?" sontak aku bangkit dari posisi dudukku.
Tetapi wanita itu hanya diam, lalu membalikkan badan dan keluar dari pintu kamarku.
"Cynthia, aku tahu kau adalah Cynthia! Hei tunggu!" Aku berlari mengikutinya.
Saat aku keluar dari pintu kamarku dia sudah berada di ujung koridor sebelah kananku menuju tangga ke lantai enam. Tanpa berpikir panjang aku berlari menyusulnya.
"Cynthia, tunggu...!" aku berteriak memanggilnya meskipun dia tidak sedikitpun menoleh ke arahku.
Setelah aku sampai di lantai enam, dia sudah menaikki tangga menuju lantai tujuh. "Hei, tunggu..!"
Di atas tangga menuju lantai tujuh ku longok ke atas, kulihat dia terus berjalan di tangga yang menuju ke atap gedung ini.
Sesampai di atap gedung yang berupa atap datar dengan marmer hitam menutupi semua permukaannya, aku melihat Cynthia berdiri di ujung sisi atap dari tempat aku berdiri. 
Aku berjalan perlahan mendekatinya, "Cynthia, katakan padaku bagaimana kau bisa datang ke sini?"
Dia menoleh ke arahku, "Ryan.." dia memanggil namaku lagi. Meski wajahnya tidak begitu terlihat karena berada dalam kegelapan malam tetapi aku mengenal suara ini, suara Cynthia.
"Iya, ini aku, Ryan."
"Bangun..."
"Apa?"
"Bangun..." dia menekankan nada suaranya.
"Apa maksudmu Cynthia?"
"Bangun..." suaranya menggema, dan tiba-tiba dia melompat dari tepian atap gedung ini.
"Tidak, jangan lakukan itu Cynthia..!" Aku berlari mendekat, tetapi dia sudah terlanjur melompat. Setelah ku longok dari tepian atap tempat dia melompat, aku tidak melihat sosok dia lagi. Entah dia jatuh kemana.
"Tidak, kenapa kau lakukan itu Cynthia?"
"Tiiitttt.." suara alarm pada kapsulku tiba-tiba berdenging, menandakan bahwa waktu tidurku sudah habis.
Aku mengerjapkan mata berulang kali. Berusaha untuk berpikir dengan logis tentang apa yang baru saja aku alami. Bagaimana mungkin aku yang sedang berada di atap gedung tiba-tiba sudah berada di kapsul ini. Ternyata aku baru saja bangun dari mimpi.
Kenapa aku bermimpi tentang Cynthia? Selama ini aku tidak pernah bermimpi tentang dia. Aneh. Apa maksud kata "bangun" yang dia ucapkan di dalam mimpi itu? Entahlah.

Link menuju --> Bagian 5

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog