Rabu, 12 November 2014

Terbangun - Bagian 2

Dari lobi utama, kamar medis terletak di ujung koridor yang arahnya tepat lurus dengan pintu masuk utama, dibuat seperti ini mungkin agar mempermudah proses evakuasi ketika ada tentara yang terluka.
Ketika aku sampai di lobi utama, aku melihat banyak tentara tergeletak kelelahan, beberapa ada yang menyapaku.
Ada banyak tentara yang terluka di sini hingga warna putih seragam mereka tak putih lagi, melainkan merah karena bersimbah darah. Sementara tentara yang tidak membutuhkan terapi di kamar medis, mereka langsung ke kamar mereka masing-masing.
Semua orang harus antre untuk menjalani serangkaian terapi pemulihan kondisi tubuh. Sistem sensor lah yang mengatur siapa yang berhak masuk duluan. Dia lebih tahu siapa yang lebih parah lukanya dan siapa yang membutuhkan terapi lebih dahulu. Semua orang di sini sama. Tidak ada perlakuan khusus bagi seseorang, meskipun dia memiliki jabatan tinggi. Ssistem sensor adalah pemegang kendali di sini.
Aku akan masuk ke kamar medis setelah sesi kedua. Setiap sesi pengobatan terdiri dari dua puluh orang yang dapat diterapi, sesuai jumlah meja terapis di kamar medis. Setiap sesi pengobatan membutuhkan waktu kira-kira sepuluh menit.
Sambil menunggu giliran terapi, aku ke toilet terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh dari simbahan darah ini.
Aku pikir toilet akan ramai sebab akan banyak orang membersihkan tubuh dari darah, dari apapun yang membuat tubuh mereka kotor setelah perang, apalagi ini adalah toilet paling dekat dengan lobi utama. Hanya perlu berjalan lurus ke koridor yang menuju kamar medis, pada persimpangan pertama belok ke kanan, dan toilet berada di ujung sebelah kanan koridor ini. Tetapi ternyata toilet itu benar-benar sepi.
Setelah membasuh bagian muka dan lenganku, aku memandangi refleksi diriku pada sebuah cermin lebar di atas wastafel. Aku merasa seolah-olah sedang berdiri di hadapan diriku yang lain. Aku baru sadar bahwa mataku ini tidak lebar, bisa dibilang agak sipit di bawah alis yang tebal, namun tatapannya tajam. Setajam tatapan seekor serigala yang ingin memangsa seekor rusa, mungkin orang yang belum mengenalku akan bilang bahwa tatapanku adalah tatapan orang sinis. Entah kenapa aku lebih suka memilih gaya rambut pendek dengan bagian dekat pelipis tipis dan menyisir rambut ke arah kiri, mungkin sesuai dengan wajahku yang bulat kekotakan ini.
Tiba-tiba aku memikirkan kata-kata Jhoni tadi, bahwa aku beda. Iya, aku beda, seluruh tentara pria di sini memang memiliki bentuk wajah dan tubuh sama seperti Jhoni. Mereka memang diciptakan dari sel yang sama untuk mengemban tugas yang sama. Begitu juga dengan seluruh tentara wanita, mereka memiliki rupa sama, persis. Sementara aku tidak pernah tahu kenapa aku beda. Dan kenapa aku yang masih terlalu muda ini dipilih menjadi seorang Leader? Padahal ada Co-Leader Jhoni Wiyanto, Arya Sentanu, Jonathan Sutoyo, Samuel Tjahyadi, Bima Raharja, Pandhu Hirata, Evelin Jatmiko, Siska Herdian, dan Monica Sitohang yang jelas-jelas dari segi umur lebih tua dariku, sekitar satu hingga tiga tahun di atasku. Tapi para pemimpin memilihku sebagai Leader. Kata mereka aku memiliki bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dari kecil aku selalu diperlakukan spesial oleh pengasuh kami, oleh para pemimpin kami, tetapi tidak oleh sistem sensor di sini.
Aku ingat waktu ketika festival tahunan yang diadakan oleh warga dan para pemimpin kami. Waktu itu aku berumur delapan tahun. Anak-anak yang memang ditakdirkan menjadi tentara, pada waktu umur mereka delapan tahun harus mengikuti  permainan pontang-panting.
Permainan pontang-panting adalah permainan yang mengharuskan peserta bergelantungan dengan tangan pada sebuah besi lurus kecil-kecil yang disusun membentuk jalinan tangga melingkar pada dua buah besi lain yang melingkar, satu lingkaran lebih kecil di dalam lingkaran lain yang lebih besar. Pada bagian atas lingkaran yang lebih kecil itu dihubungkan dengan mesin yang memusingkan lingkaran itu. Tidak ada pengaman, tidak ada kasur busa yang akan menangkap peserta ketika jatuh. Di bawah area pontang-panting ini yang ada hanyalah batu-batu runcing yang di susun membentuk sebuah area melingkar.
Permainan pontang-panting sebenarnya adalah uji kekuatan tangan dan keberanian menantang maut, siapa yang tangannya kuat maka dia tidak akan terlempar ke atas batu-batu runcing yang siap merenggut nyawa mereka seketika itu juga jika terjatuh.
Aku tidak pernah mau melakukan permainan itu. Aku takut ketinggian. Aku takut mati di hadapan orang-orang yang sedang menertawakanku saat aku terjatuh. Dan para pemimpin mengizinkanku untuk tidak mengikutinya, hingga saat ini. Mungkin inilah alasan bahwa tubuhku ini tidak terlalu kekar, tanganku tidak berotot seperti tentara lain.
Aku teringat teman kecilku yang mati sia-sia saat mengikuti permainan pontang-panting. Waktu itu kami berumur dua belas tahun. Dia adalah Cynthia Wibisono, teman terbaikku sepanjang masa. Aku tak pernah melupakannya. Bagiku dia telah meletakkan beberapa memori indah masa kecilku yang tersimpan rapi dan akan selalu rapi di dalam sistem kontrol saraf pusatku. Meskipun sekarang aku tidak mengenalinya lagi, sungguh sulit membayangkan bagaimana senyum manisnya itu merekah dari bibirnya yang tipis. Aku juga tidak dapat mengingat lagi bagaimana mata indahnya menyala-nyala seperti mata seorang gadis dalam film kartun. Entahlah, aku tidak mampu mengingatnya lagi. Seharusnya aku bisa.

Link menuju --> Bagian 2 (lanjutan)

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog