Kamis, 13 November 2014

Terbangun - Bagian 2 (Lanjutan)

Cynthia pernah bilang bahwa kami seperti virus dan antivirus pada komputer. "Kita tidak akan pernah eksis jika salah satu dari kita tidak eksis." kata-katanya masih terngiang-ngiang di telingaku. 
Ah, andai saja kau masih hidup Cynthia
"Ahrrgg, sialan ...!" sakit menggelanyar dari bahu kiriku. Aku lupaaku menumpu pada pinggiran meja wastafel dengan kedua tanganku.
Saat aku hendak keluar toilet, tiba-tiba Evelin Jatmiko membuka pintu toilet dan masuk. "Hai, Ryan. Sepertinya giliranmu sekarang," sapanya. Tidak semua orang memanggilku Leader. Orang-orang yang sudah akrab kebanyakan memanggil namaku saja.
"Hai, apa keadaanmu sudah membaik? Apa yang terjadi padamu Evelin?" 
Evelin berjalan mendekatiku. "Ya, terapi telah memulihkan lenganku yang patah. Aku ..." tiba-tiba dia berhenti bicara. Wajahnya yang oval itu mengernyit hingga matanya benar-benar hampir tenggelam saat melihat luka di bahu kiriku. "Tidak biasanya kau terluka Ryan. Apakah itu cukup parah?" Evelin menatapku heran, bibirnya yang tidak terlalu tipis berwarna merah muda itu sedikit membuka, benar-benar bentuk bibir yang sempurna untuk dikecup. Wajah Evelin juga cantik, kulitnya putih sama seperti tentara wanita lainnya.
"Ya, kau tau lah kemampuan perang pasukan Keinquish udah semakin baik sekarang," jawabku sambil menatap rambut Evelin yang sedang berjalan menuju meja wastafel. Rambutnya berwarna coklat dan lurus  tergerai di atas bahunya. Tubuh Evelin semampai, tapi cukup berotot, lengannya kelihatan lebih besarlengan seorang tentara wanitadaripada lengan wanita biasa lainnya. Tinggi badannya tidak lebih dari tinggi badanku. "Tidak parah sih, tapi sepertinya masih ada logam yang menancap di bahu kiriku," aku berbalik dan berjalan keluar ke arah pintu toilet.
"Aku juga tidak mengerti, Keinquish bukan permainan lagi dalam latihan kita. Mereka lebih tepat disebut malaikat pencabut nyawa," Evelin menoleh ke arahku, menyipitkan matanya seraya kedua tangannya menggenggam pinggiran meja wastafel kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku pikir kita lebih baik melakukan pertemuan nanti malam dengan para Co-Leader dan Elder lain. Sekarang sembuhkan dulu lukamu dan beristirahatlah."
"Baiklah, aku juga setuju dengan idemu. Tolong susun jadwal untuk pertemuan kita nanti malam. Bye, see you!" aku melangkah keluar dari pintu toilet.
"Okay, see you Leader!" Evelin sedikit berteriak karena aku sudah di luar toilet.
Semua pintu di markas ini otomatis, membuka dengan bergeser ke kanan atau ke kiri. Saat aku melewati pintu kamar medis, seorang wanita petugas medis menghampiriku dan memberikan gelang terapiku. Gelang ini terbuat dari logam bagian dalamnya, diselubungi bahan plastik berwarna putih pada bagian luar. Di dalam selubung plastik ini banyak sekali sensor-sensor yang akan berhubungan langsung dengan ujung-ujung saraf di pergelangan tanganku. Pada bagian punggung depan gelang ini ada sebuah lampu menonjol membentuk tonjolan setengah bola dan akan menyala biru muda jika gelang sudah dilingkarkan di tangan.
"Mari, aku antarkan ke meja terapimu Leader," sambil tersenyum ramah petugas medis itu mempersilahkan aku jalan menuju meja terapi. Nama petugas medis itu Silvia Rahman, aku tahu, aku cukup mengakses seperseribu detik dari otakku ke IBC dan aku sudah mengenali identitasnya, begitu juga sebaliknya.
Ruangan di dalam kamar medis dibagi menjadi beberapa bilik kamar sesuai jumlah meja terapi yang ada. Antar kamar diberi sekat dari bahan kaca. Kamar yang akan kupakai adalah kamar nomor dua. Di sana ada sebuah meja terapi yang panjangnya seukuran manusia dewasa. 
Meja terapi ini terdiri dari lembaran kaca pada tengahnya dan pada pinggirannya hingga ke samping bawah berwarna putih, sepertinya berbahan porselin. Kaki-kakinya begitu mengkilap sampai-sampai aku bisa melihat replika diriku dalam wujud yang lebih kecil di dalamnya. Meja itu tidak terlalu lebar, kira-kira 30 cm lebih lebar dari lebar tubuh manusia dewasa. Jika ku longok di bagian bawah kaca meja itu terlihat begitu banyak susunanrangkaian mesin elektrik dan sistem sensor yang tak pernah kupahami cara kerjanya. Tepat di atas meja itu ada sebuah alat yang akan menyala hijau ketika sedang melakukan scanning pada tubuh manusia.
Sebenarnya aku merasa khawatir dengan cara kerja alat ini. Dan seingatku aku belum pernah menggunakannyaaku tidak pernah terluka dalam latihan perang yang selama ini aku ikuti. Aku takut ada semacam radiasi yang tak terkendali dari alat ini dan akan merusak bagian-bagian tubuhku.
Setelah aku berbaring di meja terapi, Silvia mengambil sebuah helm berwarna putih dari meja kecil di sebelah meja terapi. Lalu dia memasangkan helm itu di kepalaku. 
"Untuk apa helm ini?" aku harus menayakannya sebab aku masih khawatir dengan cara kerja alat ini.
"Helm ini berfungsi untuk scanning otak dan memperbaiki setiap kerusakan selnya jika ada. Tenang Lead, semua akan baik-baik saja," jawab Silvia sembari mengetik pada keyboard sebuah laptop di meja kecil sebelah meja terapi tadi. Kemudian Silvia menoleh ke arah ku dan tersenyum manis. Yang membedakan gadis petugas medis ini dengan para tentara wanita adalah bentuk matanya yang lebih sipit, rambutnya lurus diikat memanjang hingga ke punggung, warna kulitnya lebih gelap, dan ketika tersenyum ada lesung di kedua pipinya. "Apakah kau sudah siap?" tanyanya.
"Ya, aku sudah siap."
"Terapi ini hanya membutuhkan waktu 10 menit kok."
"Aku tahu."

Link menuju --> Bagian 3

0 komentar:

Posting Komentar

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog