Selasa, 02 Desember 2014

Terbangun - Bagian 5

Aku tidak bisa melupakan mimpi itu-tentang Cynthia. Semakin aku ingin menghapus mimpi itu dari ingatanku semakin aku gila untuk mengingatnya. 
Aku duduk merenung menatap sendok yang kuputar-putar dalam semangkuk apuden-sejenis bubur berwarna merah muda dengan kuah susu. Aku duduk di deretan bangku kantin dekat dengan ujung deretan lemari-lemari nutrisi pada salah satu bagian sudut dalam kantin. Kantin ini terletak di lantai empat bersebelahan dengan ruang server jaringan sistem sensor dan komputer di markas ini. Ruang kantin adalah satu-satunya ruangan di markas ini yang warna dindingnya tidak putih melainkan kuning pucat, lantainya juga tidak putih melainkan marmer berwarna kehijau-hijauan.
Setiap pagi kantin ini selalu ramai. Kami terbiasa sarapan pagi bersama walaupun kami bisa melakukannya di dalam kamar kami masing-masing - setiap kamar memiliki lemari nutrisi. Kami berusaha melakukan hal-hal yang biasa kami lakukan di tempat asal kami semata-mata agar kami merasa tetap hidup.
Aku duduk semeja dengan Jhoni dan Samuel. Mereka sedang bercanda, tertawa, saling mengejek satu sama lain, sementara aku masih menatap sendok yang aku putar-putar. Aku benar-benar tidak mendengar gelagak tawa mereka-aku tidak mencoba mendengarkan mereka. Aku merasa tidak di sini melainkan di dalam duniaku sendiri yang sunyi, yang membingungkan, yang penuh dengan tanda tanya di setiap kelok jalan yang aku temui.
"Hei bro, ada apa?" cetus Jhoni sambil menatap ke arahku. Suaranya menarik jiwaku yang sedang berkeliling di dunia antah-berantah dan kembali ke sini, ke markas ini.
"Kenapa kau melamun? Adakah yang mengganggu pikiranmu?" tanya Samuel.
"Oh, hmm, aku tidak apa-apa."
"Apakah kau tidak tidur dalam kapsulmu semalam?" Jhoni mengernyit.
Aku tahu bahwa jika aku tidak tidur dalam kapsulku, maka aku akan kacau, tidak konsentrasi, dan cepat lelah sepanjang hari. Kapsul lah yang benar-benar bertindak sebagai healer kami. Tapi aku tahu maksud lain pertanyaan Jhoni dari ekspresinya.
"Aku tidur di kapsulku."
"Apa kamu yakin si gadis itu tidak mengunjungi kamarmu semalam? Sehingga kau lupa tidur dalam kapsulmu," tanya Samuel sambil melengkungkan bibirnya menahan tawa.
Sudah kutebak, kesitu arah pembicaraan ini.
"Apa maksudmu Sam," akhirnya tawaku membuncah. "Tidak ada gadis yang datang ke kamarku semalam."
"Apa kau yakin? Apa kau tidak ingin menceritakan pada kami?" tanya Jhoni sambil senyum-senyum.
"Apa yang harus aku ceritakan pada kalian?" kataku sambil tertawa.
"Ya, semacam aksi heroikmu semalam bersama gadis itu," cetus Samuel.
Tawa pun membuncah di antara kami bertiga. Aku tidak mengerti bagaimana mereka selalu berhasil membuat aku tertawa, meski aku sedang dalam pikiran yang menceracau pada diriku sendiri. Jhoni dan Samuel memang kombinasi dua pelawak yang hebat-lebih tepatnya pembuli.
"Oh, jadi aku harus membuat semacam cerita palsu yang romantis dan hangat tentang tidurku semalam begitu?" kataku sambil terkekeh-kekeh menahan tawa.
"Ya, semacam itulah yang kami," kata Samuel yang masih tergelak-gelak sambil silih berganti menatap ke arahku dan ke arah Jhoni.
"Oke bro, aku rasa kita cukupkan dahulu sendau gurau kita kali ini. Dan lihat, gadis itu benar-benar kemari sekarang." Jhoni menunjuk ke arah Evelin yang memang sedang berjalan menuju ke arah kami melewati meja-meja kantin.
"Now, it's time to rock Bro!" Samuel tersenyum, saat akan berdiri sambil membungkuk ke arahku dia menggenggam tangannya dan menjotoskan ke udara di depan mukanya.
"Hei, kalian mau kemana?" aku protes kepada mereka karena akan meninggalkanku yang belum selesai menghabiskan semangkuk apuden ini.
Sambil mengangkat mangkuk dari meja Jhoni berkata, "Kami tidak akan mengganggu pembicaraan kalian tentang rencana kunjungan malam kalian."
Jhoni dan Samuel meninggalkanku sambil membawa mangkuk-mangkuk mereka untuk dikembalikan di tempat pencucian. Aturan bagi semua orang di markas ini adalah menaruh alat makan yang telah selesai dipakai ke tempat pencucian dan tidak perlu mencucinya, sebab sudah ada mesin robot yang menanganinya.
Aku tahu sekarang, yang dimaksud si gadis itu oleh Jhoni dan Samuel adalah Evelin. Aku pernah mendengar rumor bahwa Evelin menyukaiku. Hanya saja aku tidak pernah menganggap hal itu serius, aku menganggap itu hanyalah sebuah gossip. Memang sih, wanita yang paling dekat denganku selama ini hanyalah Evelin. Mungkin itu juga yang membuat semua orang di sini mengira bahwa aku pacaran dengannya.
Secepat kilat, aku terasing lagi dalam duniaku. Gelak tawa yang membuncah beberapa menit lalu telah lenyap. Kesunyian dan kebingungan kembali menelanku bulat-bulat. Ini tidak sekedar siapa aku, kenapa aku beda, tetapi juga tentang mimpi bertemu Cynthia semalam.
"Hai Ryan," sapa Evelin sambil tersenyum.
"Hai Evelin," sejenak aku menatap lengkungan bibirnya yang manis itu.
"Bolehkah aku duduk semeja denganmu?"
"Ya, tentu saja boleh. Silahkan duduk."
"Terima kasih." kata Evelin sambil meletakkan mangkuk apudennya di meja.
Evelin duduk di bangku tepat di depanku.
Beberapa detik berlalu, dan kami hanya diam. Aku memandangi sendok yang aku putar-putar lagi di mangkuk apudenku. Aku tahu Evelin beberapa saat memandangiku, tetapi aku tidak bisa keluar dari dunia yang membuat pikiranku terjebak di sana.
"Ryan, ada masalah apa?"
Aku diam, bukan berarti aku tidak mendengar pertanyaan Evelin. Hanya saja aku tidak ingin menceritakan padanya masalahku ini-kecuali dipaksa. Evelin adalah sahabat dekatku. Tidak susah baginya memaksaku untuk menceritakan masalahku, apapun itu. Di antara kami berdua tidak ada rahasia-kecuali dia berniat merahasiakan sesuatu.
"Ayolah Ryan, ceritakan padaku masalahmu," Evelin mengerutkan dahinya. "Selama ini kita selalu berbagi, tidak ada hal sekecil apapun yang kita tutup-tutupi satu sama lain."
"Aku oke, tidak ada apa-apa kok."
"Sayangnya, kau tidak bisa berbohong padaku Ryan." tatapan matanya penuh harap padaku. Dan aku merasa bersalah jika membuat harapan itu kosong.
Begitulah Evelin, sekecil apapun masalahku dia akan tahu aku berbohong jika aku tidak menceritakannya.
"Aku akan bantu semampuku untuk menyelesaikannya, aku janji," tambah Evelin.
"Setelah kekalahan kita kemarin, aku tidak tahu kenapa aku jadi sering memikirkan siapa aku, kenapa aku beda dari yang lain, dan lebih sering teringat Cynthia bahkan sampai terbawa mimpi," akhirnya aku membuka mulut, lagi-lagi aku gagal menahannya.
"Ryan, jangan berpikir aneh-aneh deh. Kau itu Ryan, bukan siapa-siapa lagi. Kau juga tidak beda, kau bagian dari Astana Guard, kau adalah keluarga kami, kau adalah bagian dari peduduk kota Astana," Evelin mencoba meyakinkan keraguanku. "Soal Cynthia, aku tidak tahu, seharusnya ingatanmu tentang dia sudah lama hilang, seharusnya tinggal namanya saja yang tersisa di memorimu."
"Tidak, aku tahu aku beda, Jhoni pernah bilang padaku bahwa aku beda. Seluruh tentara pria Astana Guard adalah duplikat dari Jhoni dan tentara wanitanya duplikat dari kau Evelin. Semua perawat juga sama persis, seluruh petani juga sama persis untuk laki-lakinya begitu juga yang perempuan, seluruh wanita pengasuh, seluruh laki-laki pekerja bangunan, seluruh pekerja di lab, semua orang sama persis dengan orang-orang tempat dimana ia bekerja," aku menghela nafas sejenak.
Evelin hanya diam, mungkin dia sedang memikirkan apa yang sedang aku pikirkan sekarang.
"Bahkan musuh kita, pasukan Keinquish, mereka juga mirip, tak ada yang beda satupun. Sementara aku, tidak mirip dengan siapa pun di dunia ini. Aku ragu bahwa aku adalah penduduk kota Astana, sama halnya aku meragukan para pemimpin kita yang juga berbeda dengan para penduduk lainnya," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, meluncur tanpa gesekan di atas lidahku.
"Ya, aku menyadari bahwa kau memang beda Ryan. Aku juga tidak tahu kenapa. Para pemimpin memiliki tujuan dalam menciptakan kita, dan yang paling menjijikkan adalah hal itu tak pernah kita pahami," Evelin bicara perlahan-lahan.
"Kemudian, aku juga merasa ada yang ganjil dengan diriku, hal-hal tentang Cynthia yang seharusnya aku sudah lupa, sekarang aku mengingatnya lagi."
"Ryan, aku pikir lebih baik kau jangan terlalu memikirkan pertanyaan-pertanyaanmu itu. Ini akan membuat kau semakin gila, ada jutaan benang kusut di dalamnya. Sekarang lebih baik kita konsentrasi pada pertempuran ini dan lalu pulang ke kota. Aku janji, aku akan bantu mencari jawaban dari seluruh pertanyaanmu setelah di kota nanti."
"Iya sih. Kau benar Evelin."
"Mungkin juga kau terlalu frustasi dengan kekalahan kemarin, sehingga pikiranmu kacau kemana-mana,"sahut Evelin.
"Entahlah, aku juga tidak ingin memikirkannya, tetapi..." belum selesai aku mengatakannya, Evelin sudah menyela.
"Sudah, nanti malam aku akan berkunjung ke kamarmu. Mungkin kita bisa ngobrol sebentar sebelum kau tertidur, aku pikir itu akan membantumu melupakan pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga tidak akan menghantui tidurmu" kata Evelin menenangkanku sambil mengelus lenganku.
"Tidak usah repot-repot Evelin, selama ini kau terlalu baik padaku."
"Apakah aku juga harus menyebutkan bagaimana kau juga sangat baik padaku? Ryan, bagiku tidak ada kata tolong-menolong lagi di antara kita. Persahabatan itu seharusnya lebih dari sekedar tindakan saling berbalas kebaikkan."
"Ya, kau benar. Terima kasih Evelin, aku merasa bebanku sudah berkurang setengahnya sekarang."
"Sama-sama, begitulah gunanya teman. Ayo habiskan apudenmu, aku rasa ia akan segera menjamur karena kau biarkan mendingin di mangkuk," Evelin tersenyum ke arahku.
"Ya, aku rasa ini sudah menjamur. Hahahaha," aku tertawa mendengar kata menjamur meletup dari mulutnya.

Bersambung...........

Jumat, 21 November 2014

Terbangun - Bagian 4

Tiba-tiba aku terbangun di tengah malam, nafasku ngos-ngosan. "Huh, untung cuma mimpi." Aku menoleh pada dinding sebelah kiriku, pada bagian atas ada sebuah kotak jam digital berwarna putih dan hitam gelap pada bagian layar yang menampilkan angka berwarna biru itu. Pukul 02.01.
Tidak biasanya aku bermimpi hingga berkeringat seperti ini.
Aku melepas sensor yang menempel pada kedua pelipisku, lalu aku bangun menuju sebuah lemari nutrisi tepat di bawah kotak jam digital itu. Aku haus. Pintu bagian atas lemari itu bergeser dan di dalamnya ada sebuah pintu kaca bening. Aku melihat ke dalam lemari itu. Sebuah sensor nutrisi sedang memancarkan sinar membentuk sebuah botol berisi air. Di sini serba mudah, sensor-sensor lebih cerdas dari apapun.
Kuteguk air dalam botol itu hingga tangan-tangan dahaga yang menyekik leherku mulai lepas satu per satu.
Aku duduk di pinggiran kapsulku. Aku mengingat-ingat mimpi apa barusan. Aku ingat, tadi aku bermimpi bahwa aku menembak kepala seorang wanita. Aku tahu wanita itu adalah Cynthia, walaupun aku tidak dapat benar-benar melihat bagaimana wajahnya tetapi aku mengenalinya. Aku berusaha menolak, tapi tanganku tak dapat ku kendalikan. Tanganku seperti di bawah kontrol orang lain, bukan oleh diriku sendiri. Dan aku menembaknya, di depanku, saat dia menyimpulkan senyum manis seolah dia telah ikhlas mati di tanganku. Oh, kenapa aku bermimpi tentang Cynthia?
"Ryan.."
Tiba-tiba sebuah suara datang dari arah depanku. Suaranya lembut. Menenangkan, menggunggah jiwa yang kalut dan lalu bangkit menuju rasa damai.
Aku mendongak dan menatap seorang wanita berseragam AG berdiri di depanku, di dekat daun pintu kamarku.
"Cynthia... benarkah itu kau ?" sontak aku bangkit dari posisi dudukku.
Tetapi wanita itu hanya diam, lalu membalikkan badan dan keluar dari pintu kamarku.
"Cynthia, aku tahu kau adalah Cynthia! Hei tunggu!" Aku berlari mengikutinya.
Saat aku keluar dari pintu kamarku dia sudah berada di ujung koridor sebelah kananku menuju tangga ke lantai enam. Tanpa berpikir panjang aku berlari menyusulnya.
"Cynthia, tunggu...!" aku berteriak memanggilnya meskipun dia tidak sedikitpun menoleh ke arahku.
Setelah aku sampai di lantai enam, dia sudah menaikki tangga menuju lantai tujuh. "Hei, tunggu..!"
Di atas tangga menuju lantai tujuh ku longok ke atas, kulihat dia terus berjalan di tangga yang menuju ke atap gedung ini.
Sesampai di atap gedung yang berupa atap datar dengan marmer hitam menutupi semua permukaannya, aku melihat Cynthia berdiri di ujung sisi atap dari tempat aku berdiri. 
Aku berjalan perlahan mendekatinya, "Cynthia, katakan padaku bagaimana kau bisa datang ke sini?"
Dia menoleh ke arahku, "Ryan.." dia memanggil namaku lagi. Meski wajahnya tidak begitu terlihat karena berada dalam kegelapan malam tetapi aku mengenal suara ini, suara Cynthia.
"Iya, ini aku, Ryan."
"Bangun..."
"Apa?"
"Bangun..." dia menekankan nada suaranya.
"Apa maksudmu Cynthia?"
"Bangun..." suaranya menggema, dan tiba-tiba dia melompat dari tepian atap gedung ini.
"Tidak, jangan lakukan itu Cynthia..!" Aku berlari mendekat, tetapi dia sudah terlanjur melompat. Setelah ku longok dari tepian atap tempat dia melompat, aku tidak melihat sosok dia lagi. Entah dia jatuh kemana.
"Tidak, kenapa kau lakukan itu Cynthia?"
"Tiiitttt.." suara alarm pada kapsulku tiba-tiba berdenging, menandakan bahwa waktu tidurku sudah habis.
Aku mengerjapkan mata berulang kali. Berusaha untuk berpikir dengan logis tentang apa yang baru saja aku alami. Bagaimana mungkin aku yang sedang berada di atap gedung tiba-tiba sudah berada di kapsul ini. Ternyata aku baru saja bangun dari mimpi.
Kenapa aku bermimpi tentang Cynthia? Selama ini aku tidak pernah bermimpi tentang dia. Aneh. Apa maksud kata "bangun" yang dia ucapkan di dalam mimpi itu? Entahlah.

Link menuju --> Bagian 5

Jumat, 14 November 2014

Terbangun - Bagian 3

Aku membuka mata saat cahaya kuning redup di dalam kubah penutup kepala ini padam. Tatapan mataku mengikuti gerakan kubah penutup kepala ini saat bergeser, membuka wajah ini sehingga aku bisa melihat plafon kamarku sekarang. Sebuah titik tak kasat mata semakin lama semakin menampakkan diri pada plafon tepat di atas wajahku. Aku mengerjap, seketika titik itu lenyap. Dua jam telah berlalu setelah aku menyetting sistem pemrograman pada tempat tidurku yang berbentuk setengah potongan melintang kapsul ini.
Aku teringat saat mengikuti pelajaran biologi, bahwa anak ayam terlahir ke dunia setelah ia memecahkan cangkang yang mengurung tubuhnya. Bagitulah rasanya setiap bangun tidur dari tempat tidur berbentuk setengah potongan melintang kapsul berwarna putih ini. Seolah-olah aku baru saja terlahir ke dunia yang baru, hanya saja aku tidak perlu memecahkan cangkang ini.
Bagian dalam kapsul ini merupakan busa yang sangat empuk, dimana di bawah busa itu terdapat banyak rangkaian sensor yang akan menetralkan ion-ion yang tidak seimbang pada setiap sel tubuhku. Aku bisa saja menyetting waktu istirahatku kapan saja, maka sistem pemrograman di dalam kapsul ini akan membangunkanku tepat waktu, namun bukan berarti aku tidak dapat bangun semauku.
Aku melepas sensor yang menempel pada kedua pelipisku dan duduk dengan meluruskan punggungku. Rasa nyeri di bahu kiriku sudah hilang setelah terapi tadi sore. Aku juga tidak dapat melihat bekas luka itu lagi. 
Aku duduk menyamping di kapsulku dengan kedua kakiku menginjak lantai. Lantai-lantai di markas ini selalu terasa dingin. 
Sesaat pandanganku ke arah meja kaca di sebelah kapsulku. Di sana aku menatap logam bulat lonjong yang tadi keluar dari bahu kiriku saat aku diterapi. Logam itu aku simpan dalam sebuah tabung kaca dengan penutup berbahan plastik berwarna merah. Warna logam itu hijau keabu-abuan. Ukurannya tidak terlalu besar, diameternya lebih kecil dari diamter pensil kayu dan panjangnya kira-kira satu setengah senti. Aku sengaja melarang Silvia membuangnya. Aku pikir itu berarti bagiku, mengingatkanku, bahwa aku bisa saja terluka, dan bahkan mati kapan saja dalam latihan ini.
----------------------------------ooo000ooo----------------------------------

Tepat pukul 08.00 malam aku melakukan pertemuan dengan para Co-Leader dan Elder di Hall Rajawali. Hall ini berada di lantai dua. Ruangan ini memang didesain untuk ruang pertemuan dengan susunan kursi yang mengelilingi sisi luar meja kaca berbentuk U. Semua bagian meja kaca di depan kursi masing-masing peserta pertemuan dapat menampilkan sebuah monitor transparan vertikal di depan muka mereka.
Saat aku masuk ke Hall Rajawali, sudah ada sepuluh Co-Leader dan dua puluh Elder menungguku di sana. "Selamat malam Leader!" mereka secara serentak menyapaku.
Sejenak aku menatap satu setengah lusin Jhoni yang lain dan selusin wanita seperti Evelin. Bagaimana bisa mereka identik satu sama lain sementara tidak ada satupun yang mirip denganku? Aku beda. Dan kenapa aku beda? Mungkin takdirku telah ditulis seperti ini.
"Selamat malam," sebenarnya aku merasa aneh dengan ucapan selamat malam. Kami semua tidak tahu apakah saat ini benar-benar waktu malam di tempat asal kami. Di sini kami hanya menggunakan waktu yang diatur oleh sistem sensor dan jaringan komputer kami. Setahuku ada selisih waktu antara di sini dengan tempat asal kami.
"Baiklah mari kita mulai rapat kita ini," aku duduk di kursiku di bagian dasar huruf U, lima orang Co-Leader di samping kananku dan lima orang Co-Leader lagi di samping kiriku, dan para Elder terbagi dua pada sisi kanan dan kiriku hingga ujung meja. "Sebelum ke inti pokok masalah, aku ingin mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya anggota tentara kita, mereka adalah sahabat kita, keluarga kita." Aku memandang sekilas ke seluruh peserta pertemuan, berharap ada satu sosok saja yang mirip denganku.
Dengan serentak mereka mengepalkan tangan di depan jantung mereka seraya mengucapkan, "Kami merindukan mereka berjuang bersama kami mewujudkan takdir yang telah ditulis oleh para pemimpin kami."  Begitulah ritual para warga di Pulau Astana ketika melepas kepergian teman-temannya.
Aku mengaktifkan monitor transparan di mejaku dengan mengucapkan "Activation screen!", lalu diikuti peserta lain. Sistem sensor dan jaringan komputer memiliki cara mereka sendiri mengenali suara masing-masing dari kami dan lalu memunculkan monitor transparan satu per satu di hadapan kami.
"Baiklah, di monitor kalian sudah tampak peta daerah kekuasaan Keinquish dan di sinilah kita dibantai habis oleh pasukan mereka," aku menekan monitor transparan itu tepat pada tulisan Lembah Almainder dan menimbulkan efek lingkaran biru pada bagian itu di semua monitor peserta rapat. "Selama ini yang kita tahu, mereka tidak pernah sejauh ini keluar dari markas mereka."
"Iya Lead, pertama kalinya aku harus bertempur dengan mereka di lembah ini." sahut Arya Sentanu. Dia salah satu Co-Leader paling tua, dua puluh enam tahun.
"Mungkin mereka telah membuat pos-pos penjagaan di sana," imbuh Rita Setiadi, salah satu Co-Leader juga.
"Bagaiman kau bisa tahu bahwa mereka membuat pos-pos penjagaan di sana, Rita?" aku menoleh ke arah Rita. Dia duduk di sebelah kiriku, ada Jonathan Sutoyo dan Samuel Tjahyadi yang duduk antara aku dan dia. Rita adalah satu-satunya Co-Leader yang seumuran denganku.
"Aku tidak mengerti Lead, mereka muncul tiba-tiba di tengah-tengah kita ketika kita sedang lengah."
"Iya benar, aku melihat mereka muncul dari sebuah lapisan hologram tipis secara tiba-tiba," Bima Raharja menguatkan jawaban Rita.
"Apakah menurutmu mereka menggunakan semacam lapisan anti deteksi radar?" aku mengernyit ke arah Co-Leader Bima.
"Mungkin," Bima membuka kedua telapak tangannya sambil mengangkat bahunya.
"Mungkinkah mereka telah menggunakan teknologi yang sedang dikembangkan oleh ilmuwan kita?" tanya Jhoni.
"Itu bisa saja terjadi, semua itu tergantung kehendak pemimpin kita," jawabku datar sambil kutatap lekat-lekat sekumpulan bunga anyelir warna-warni di tengah ruangan itu. Bunga-bunga itu sepertinya juga sedang memikirkan nasib kami, memberitahu kami bahwa kehendak para pemimpin kami tidak dapat ditebak, apalagi ditolak. Semacam sudah menjadi naluri alami untuk menerima segala takdir yang ditentukan oleh mereka.
"Apakah mereka menginginkan kita mati?" tanya seorang Elder wanita, Linda Nurman.
"Iya benar, bagaimana kalau mereka menginginkan kita mati?" imbuh Samuel, matanya membelalak menatapku.
"Tidak, tidak mungkin. Mereka hanya ingin memberi tantangan yang lebih dari biasanya kepada kita. Ini bertujuan agar tentara AG menjadi lebih baik lagi," aku berusaha menenangkan kekhawatiran mereka, meskipun aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku berkata seperti itu. Ada kekhawatiran juga dalam diriku. "Yang kita perlukan saat ini adalah keyakinan dan strategi baru untuk melumpuhkan Keinquish. Dan pulang ..."
"Iya benar kata Leader. Apapun yang terjadi kita harus mengalahkan mereka. Kita tidak akan bisa kembali ke kota Astana tanpa kotak transmit sialan itu," dengan penuh kemantapan Siska Herdian berbicara sembari berdiri dan mengangkat tangan kanannya yang mengepal.
"Tetapi Leader, jumlah tentara kita tinggal 220 orang. Bagaimana mungkin kita akan menang?" sela seorang Co-Leader tepat di sebelah kananku, Pandhu Hirata, sambil menekan pada layar monitor untuk menampilkan data tentara yang masih aktif.
"Aku pikir kita harus minta tentara tambahan kepada para pemimpin, Leader," kata Jhoni sambil memegangi bandul kalungnya.
"Iya Leader, aku setuju dengan pendapat Co-Leader Jhoni, soalnya anggota pletonku tinggal delapan orang," imbuh seorang Elder, I Wayan Saputra, sambil mengangkat tangannya.
"Bagaimana menurutmu Co-Leader Jonathan Sutoyo?" aku menoleh ke arah Jonathan. Dia ahli dalam jaringan komputer dan satu-satunya orang yang tahu mekanisme meminta tentara tambahan kepada pemimpin.
"Apakah ini berarti kita harus melatih tentara baru lagi sebelum kita berperang?" Jonathan membalas tatapanku dengan kedua tangannya disilangkan di depan dadanya.
"Jika memang harus seperti itu, apa boleh buat?" jawabku.
"Bukankah itu membutuhkan waktu yang lama Lead?" tiba-tiba Monica Sitohang angkat bicara. Dia adalah Co-Leader yang paling pendiam, namun paling kejam pada anggotanya jika anggotanya melakukan kesalahan.
"Benar Lead, ini seperti kita latihan dari awal lagi, sementara musuh telah di depan meninggalkan kita," sahut Evelin.
"Aku tahu. Sebagai seorang Leader, ini adalah sebuah situasi yang sulit. Tapi kita butuh tentara tambahan, jumlah kita terlalu sedikit untuk dihabisi oleh pasukan Keinquish."
"Baiklah, malam ini juga akan kukirim sandi-sandi permintaan kepada para pemimpin kita. Semoga besok pagi mereka sudah mengirim pasukan tambahan," Jonathan akhirnya menyetujui ide itu.
"Baiklah, besok aku tunggu kabar darimu Jonathan. Lalu bagaimana dengan persedia senjata kita Bima?" aku menoleh ke arah Bima sekarang. Dia lebih sering berhubungan dengan para ilmuwan dan teknisi yang bekerja di lab senjata di lantai bawah.
"Mereka sedang mengembangkan software senjata tak kasat mata, dan sedang memecahkan syntax-syntax yang masih error ketika men-sinkronisasi senjata tersebut ke tubuh manusia. Sementara para teknisi sedang memproduksi kendaraan tempur kita dalam jumlah banyak, setelah semua kendaraan tempur kita hancur pada pertempuran tadi siang, kita tidak punya stok lagi."
"Baiklah kalau begitu. Ada hal lain yang perlu kita bahas lagi?" aku bertanya kepada seluruh peserta.
Rapat pun terus berlanjut, kami membahas tentang senjata pasukan Keinquish yang aneh, yang tiba-tiba muncul dari tangan kosong. Selain itu kami membahas tentang agenda latihan yang akan kami berikan pada tentara baru nanti. Pertemuan pun berakhir tepat pukul 10.00.

Bersambung...

Link menuju--> Bagian 4

Kamis, 13 November 2014

Terbangun - Bagian 2 (Lanjutan)

Cynthia pernah bilang bahwa kami seperti virus dan antivirus pada komputer. "Kita tidak akan pernah eksis jika salah satu dari kita tidak eksis." kata-katanya masih terngiang-ngiang di telingaku. 
Ah, andai saja kau masih hidup Cynthia
"Ahrrgg, sialan ...!" sakit menggelanyar dari bahu kiriku. Aku lupaaku menumpu pada pinggiran meja wastafel dengan kedua tanganku.
Saat aku hendak keluar toilet, tiba-tiba Evelin Jatmiko membuka pintu toilet dan masuk. "Hai, Ryan. Sepertinya giliranmu sekarang," sapanya. Tidak semua orang memanggilku Leader. Orang-orang yang sudah akrab kebanyakan memanggil namaku saja.
"Hai, apa keadaanmu sudah membaik? Apa yang terjadi padamu Evelin?" 
Evelin berjalan mendekatiku. "Ya, terapi telah memulihkan lenganku yang patah. Aku ..." tiba-tiba dia berhenti bicara. Wajahnya yang oval itu mengernyit hingga matanya benar-benar hampir tenggelam saat melihat luka di bahu kiriku. "Tidak biasanya kau terluka Ryan. Apakah itu cukup parah?" Evelin menatapku heran, bibirnya yang tidak terlalu tipis berwarna merah muda itu sedikit membuka, benar-benar bentuk bibir yang sempurna untuk dikecup. Wajah Evelin juga cantik, kulitnya putih sama seperti tentara wanita lainnya.
"Ya, kau tau lah kemampuan perang pasukan Keinquish udah semakin baik sekarang," jawabku sambil menatap rambut Evelin yang sedang berjalan menuju meja wastafel. Rambutnya berwarna coklat dan lurus  tergerai di atas bahunya. Tubuh Evelin semampai, tapi cukup berotot, lengannya kelihatan lebih besarlengan seorang tentara wanitadaripada lengan wanita biasa lainnya. Tinggi badannya tidak lebih dari tinggi badanku. "Tidak parah sih, tapi sepertinya masih ada logam yang menancap di bahu kiriku," aku berbalik dan berjalan keluar ke arah pintu toilet.
"Aku juga tidak mengerti, Keinquish bukan permainan lagi dalam latihan kita. Mereka lebih tepat disebut malaikat pencabut nyawa," Evelin menoleh ke arahku, menyipitkan matanya seraya kedua tangannya menggenggam pinggiran meja wastafel kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku pikir kita lebih baik melakukan pertemuan nanti malam dengan para Co-Leader dan Elder lain. Sekarang sembuhkan dulu lukamu dan beristirahatlah."
"Baiklah, aku juga setuju dengan idemu. Tolong susun jadwal untuk pertemuan kita nanti malam. Bye, see you!" aku melangkah keluar dari pintu toilet.
"Okay, see you Leader!" Evelin sedikit berteriak karena aku sudah di luar toilet.
Semua pintu di markas ini otomatis, membuka dengan bergeser ke kanan atau ke kiri. Saat aku melewati pintu kamar medis, seorang wanita petugas medis menghampiriku dan memberikan gelang terapiku. Gelang ini terbuat dari logam bagian dalamnya, diselubungi bahan plastik berwarna putih pada bagian luar. Di dalam selubung plastik ini banyak sekali sensor-sensor yang akan berhubungan langsung dengan ujung-ujung saraf di pergelangan tanganku. Pada bagian punggung depan gelang ini ada sebuah lampu menonjol membentuk tonjolan setengah bola dan akan menyala biru muda jika gelang sudah dilingkarkan di tangan.
"Mari, aku antarkan ke meja terapimu Leader," sambil tersenyum ramah petugas medis itu mempersilahkan aku jalan menuju meja terapi. Nama petugas medis itu Silvia Rahman, aku tahu, aku cukup mengakses seperseribu detik dari otakku ke IBC dan aku sudah mengenali identitasnya, begitu juga sebaliknya.
Ruangan di dalam kamar medis dibagi menjadi beberapa bilik kamar sesuai jumlah meja terapi yang ada. Antar kamar diberi sekat dari bahan kaca. Kamar yang akan kupakai adalah kamar nomor dua. Di sana ada sebuah meja terapi yang panjangnya seukuran manusia dewasa. 
Meja terapi ini terdiri dari lembaran kaca pada tengahnya dan pada pinggirannya hingga ke samping bawah berwarna putih, sepertinya berbahan porselin. Kaki-kakinya begitu mengkilap sampai-sampai aku bisa melihat replika diriku dalam wujud yang lebih kecil di dalamnya. Meja itu tidak terlalu lebar, kira-kira 30 cm lebih lebar dari lebar tubuh manusia dewasa. Jika ku longok di bagian bawah kaca meja itu terlihat begitu banyak susunanrangkaian mesin elektrik dan sistem sensor yang tak pernah kupahami cara kerjanya. Tepat di atas meja itu ada sebuah alat yang akan menyala hijau ketika sedang melakukan scanning pada tubuh manusia.
Sebenarnya aku merasa khawatir dengan cara kerja alat ini. Dan seingatku aku belum pernah menggunakannyaaku tidak pernah terluka dalam latihan perang yang selama ini aku ikuti. Aku takut ada semacam radiasi yang tak terkendali dari alat ini dan akan merusak bagian-bagian tubuhku.
Setelah aku berbaring di meja terapi, Silvia mengambil sebuah helm berwarna putih dari meja kecil di sebelah meja terapi. Lalu dia memasangkan helm itu di kepalaku. 
"Untuk apa helm ini?" aku harus menayakannya sebab aku masih khawatir dengan cara kerja alat ini.
"Helm ini berfungsi untuk scanning otak dan memperbaiki setiap kerusakan selnya jika ada. Tenang Lead, semua akan baik-baik saja," jawab Silvia sembari mengetik pada keyboard sebuah laptop di meja kecil sebelah meja terapi tadi. Kemudian Silvia menoleh ke arah ku dan tersenyum manis. Yang membedakan gadis petugas medis ini dengan para tentara wanita adalah bentuk matanya yang lebih sipit, rambutnya lurus diikat memanjang hingga ke punggung, warna kulitnya lebih gelap, dan ketika tersenyum ada lesung di kedua pipinya. "Apakah kau sudah siap?" tanyanya.
"Ya, aku sudah siap."
"Terapi ini hanya membutuhkan waktu 10 menit kok."
"Aku tahu."

Link menuju --> Bagian 3

Rabu, 12 November 2014

Terbangun - Bagian 2

Dari lobi utama, kamar medis terletak di ujung koridor yang arahnya tepat lurus dengan pintu masuk utama, dibuat seperti ini mungkin agar mempermudah proses evakuasi ketika ada tentara yang terluka.
Ketika aku sampai di lobi utama, aku melihat banyak tentara tergeletak kelelahan, beberapa ada yang menyapaku.
Ada banyak tentara yang terluka di sini hingga warna putih seragam mereka tak putih lagi, melainkan merah karena bersimbah darah. Sementara tentara yang tidak membutuhkan terapi di kamar medis, mereka langsung ke kamar mereka masing-masing.
Semua orang harus antre untuk menjalani serangkaian terapi pemulihan kondisi tubuh. Sistem sensor lah yang mengatur siapa yang berhak masuk duluan. Dia lebih tahu siapa yang lebih parah lukanya dan siapa yang membutuhkan terapi lebih dahulu. Semua orang di sini sama. Tidak ada perlakuan khusus bagi seseorang, meskipun dia memiliki jabatan tinggi. Ssistem sensor adalah pemegang kendali di sini.
Aku akan masuk ke kamar medis setelah sesi kedua. Setiap sesi pengobatan terdiri dari dua puluh orang yang dapat diterapi, sesuai jumlah meja terapis di kamar medis. Setiap sesi pengobatan membutuhkan waktu kira-kira sepuluh menit.
Sambil menunggu giliran terapi, aku ke toilet terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh dari simbahan darah ini.
Aku pikir toilet akan ramai sebab akan banyak orang membersihkan tubuh dari darah, dari apapun yang membuat tubuh mereka kotor setelah perang, apalagi ini adalah toilet paling dekat dengan lobi utama. Hanya perlu berjalan lurus ke koridor yang menuju kamar medis, pada persimpangan pertama belok ke kanan, dan toilet berada di ujung sebelah kanan koridor ini. Tetapi ternyata toilet itu benar-benar sepi.
Setelah membasuh bagian muka dan lenganku, aku memandangi refleksi diriku pada sebuah cermin lebar di atas wastafel. Aku merasa seolah-olah sedang berdiri di hadapan diriku yang lain. Aku baru sadar bahwa mataku ini tidak lebar, bisa dibilang agak sipit di bawah alis yang tebal, namun tatapannya tajam. Setajam tatapan seekor serigala yang ingin memangsa seekor rusa, mungkin orang yang belum mengenalku akan bilang bahwa tatapanku adalah tatapan orang sinis. Entah kenapa aku lebih suka memilih gaya rambut pendek dengan bagian dekat pelipis tipis dan menyisir rambut ke arah kiri, mungkin sesuai dengan wajahku yang bulat kekotakan ini.
Tiba-tiba aku memikirkan kata-kata Jhoni tadi, bahwa aku beda. Iya, aku beda, seluruh tentara pria di sini memang memiliki bentuk wajah dan tubuh sama seperti Jhoni. Mereka memang diciptakan dari sel yang sama untuk mengemban tugas yang sama. Begitu juga dengan seluruh tentara wanita, mereka memiliki rupa sama, persis. Sementara aku tidak pernah tahu kenapa aku beda. Dan kenapa aku yang masih terlalu muda ini dipilih menjadi seorang Leader? Padahal ada Co-Leader Jhoni Wiyanto, Arya Sentanu, Jonathan Sutoyo, Samuel Tjahyadi, Bima Raharja, Pandhu Hirata, Evelin Jatmiko, Siska Herdian, dan Monica Sitohang yang jelas-jelas dari segi umur lebih tua dariku, sekitar satu hingga tiga tahun di atasku. Tapi para pemimpin memilihku sebagai Leader. Kata mereka aku memiliki bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dari kecil aku selalu diperlakukan spesial oleh pengasuh kami, oleh para pemimpin kami, tetapi tidak oleh sistem sensor di sini.
Aku ingat waktu ketika festival tahunan yang diadakan oleh warga dan para pemimpin kami. Waktu itu aku berumur delapan tahun. Anak-anak yang memang ditakdirkan menjadi tentara, pada waktu umur mereka delapan tahun harus mengikuti  permainan pontang-panting.
Permainan pontang-panting adalah permainan yang mengharuskan peserta bergelantungan dengan tangan pada sebuah besi lurus kecil-kecil yang disusun membentuk jalinan tangga melingkar pada dua buah besi lain yang melingkar, satu lingkaran lebih kecil di dalam lingkaran lain yang lebih besar. Pada bagian atas lingkaran yang lebih kecil itu dihubungkan dengan mesin yang memusingkan lingkaran itu. Tidak ada pengaman, tidak ada kasur busa yang akan menangkap peserta ketika jatuh. Di bawah area pontang-panting ini yang ada hanyalah batu-batu runcing yang di susun membentuk sebuah area melingkar.
Permainan pontang-panting sebenarnya adalah uji kekuatan tangan dan keberanian menantang maut, siapa yang tangannya kuat maka dia tidak akan terlempar ke atas batu-batu runcing yang siap merenggut nyawa mereka seketika itu juga jika terjatuh.
Aku tidak pernah mau melakukan permainan itu. Aku takut ketinggian. Aku takut mati di hadapan orang-orang yang sedang menertawakanku saat aku terjatuh. Dan para pemimpin mengizinkanku untuk tidak mengikutinya, hingga saat ini. Mungkin inilah alasan bahwa tubuhku ini tidak terlalu kekar, tanganku tidak berotot seperti tentara lain.
Aku teringat teman kecilku yang mati sia-sia saat mengikuti permainan pontang-panting. Waktu itu kami berumur dua belas tahun. Dia adalah Cynthia Wibisono, teman terbaikku sepanjang masa. Aku tak pernah melupakannya. Bagiku dia telah meletakkan beberapa memori indah masa kecilku yang tersimpan rapi dan akan selalu rapi di dalam sistem kontrol saraf pusatku. Meskipun sekarang aku tidak mengenalinya lagi, sungguh sulit membayangkan bagaimana senyum manisnya itu merekah dari bibirnya yang tipis. Aku juga tidak dapat mengingat lagi bagaimana mata indahnya menyala-nyala seperti mata seorang gadis dalam film kartun. Entahlah, aku tidak mampu mengingatnya lagi. Seharusnya aku bisa.

Link menuju --> Bagian 2 (lanjutan)

Terbangun - Bagian 1

Dalam heningnya sepi, tiba-tiba suara ledakan memekik di telinga. Nafasku tersengal-sengal. Aku tergeletak di antara belasan mayat yang mengerikan. Aku memandangi langit yang begitu kelam penuh dengan asap hitam dan bola-bola api beterbangan.
Aku pikir aku tadi pingsan. "Berapa lama aku pingsan?", tanyaku lirih pada diri sendiri. "Tidak, tidak, aku sedang memimpin pasukan." Aku mencoba bangun. "Ah, sialan!" bahu kiriku sakit menggelanyar hingga terasa di sekujur tubuhku saat aku mencoba menggunakan kedua lenganku untuk tumpuan.
"Brengsek, ternyata aku tertembak." Dengan susah payah aku pun bangkit dan duduk di sebelah mayat seorang tentara yang kepalanya hancur berantakan. Sesaat aku memandangi mayat itu, darah dan bagian otaknya berceceran dimana-mana. Cukup membuatku begidik.
Banyak tentaraku yang tewas tergeletak dengan wujud mengerikan. Bahkan aku sungguh tidak ingin berlama-lama berada di sini, meskipun dalam beberapa menit lagi mayat-mayat itu akan menghilang.
"Munduuurr, seluruh pasukan Astana Guard kembali ke garis aman!" aku berteriak.
Benar-benar sebuah serangan tiba-tiba yang membabi buta. Aku dan seluruh tentaraku seperti masuk dalam sebuah jebakan.
Padahal kemarin aku sudah memperhitungkan bahwa Pasukan Keinquish tidak akan keluar dari wilayahnya sejauh ini - hingga lembah Almainder. Kami akan merangsek ke wilayah mereka dan memenangkan peperangan ini. Kami akan merebut wilayah Keinquish dan merebut kotak transmit agar kami bisa kembali ke kota lagi seperti yang sudah-sudah kami lakukan di setiap latihan. Namun, baru kali ini pasukanku kocar-kacir dibombardir oleh Pasukan Keinquish.
Tiba-tiba saja, suara tembakan dan ledakan bom mulai berkurang. Aku memandang ke langit, tidak banyak bola-bola api beterbangan lagi. Terasa aneh memang, sebab dari tadi pasukan Keinquish tak henti-hentinya memborbardir kami dan untuk saat ini tiba-tiba berhenti menyerang. "Leader, ayo cepat kita kembali ke markas!" teriak seorang tentara yang samar-samar aku melihatnya berjalan terhuyung-huyung dari sisi kiriku.
"Aku tertembak."
Setelah mendekat, aku tahu bahwa dia adalah Jhoni.
"Okeh, aku bantu anda berdiri," nada suara Jhoni gemetar penuh ketakutan, padahal dia adalah salah satu tentara terbaikku. Dia salah satu Co-Leader di pasukan Astana Guard (AG) kami.
Astana Guard adalah sekelompok tentara elit di tempat asal kami, Kota Astana di Pulau Astana. AG dipimpin oleh seorang Leader yaitu aku dan sepuluh Co-Leader lain. Terdapat juga dua puluh Elder yang merupakan ketua dari sebuah pleton beranggotakan dua puluh tentara.
Leader adalah pemimpin tertinggi di AG yang bertanggung jawab langsung kepada seorang Co-Mayor, yaitu kepala Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam). Co-Leader adalah  wakil dari Leader yang membidangi keahlian dan kemampuan masing-masing seperti ahli menembak, memanah, strategi, komunikasi, persenjataan, instalasi program, dan lain-lain. Sementara seorang Elder adalah penggerak dari sebuah pleton itu sendiri, tanpa seorang Elder pasukan di dalam Pleton tidak terprogram dengan baik.
Anggota AG tidak hanya pria tetapi juga wanita. Baik tentara pria maupun wanita memiliki kedudukan setara sesuai jabatannya. Semua tentara pria memiliki rupa dan bentuk tubuh yang sama, begitu juga tentara wanita. Hampir tidak bisa membedakan orang yang satu dengan yang lainnya, beruntung teknologi telah membantu kami dalam mengenali identitas setiap orang.
Perang ini sebenarnya hanya sebuah latihan untuk meningkatkan skills berperang kami. Meskipun hanya sebuah latihan, tetapi ini mengerikan, sebab kami benar-benar akan kehilangan beberapa teman kami jika mereka mati dalam latihan ini.
Musuh kami adalah Pasukan Keinquish, sebuah pasukan yang disiapkan oleh para pemimpin di kota kami untuk kami lawan dalam latihan. Para pemimpin akan selalu memperbaiki kemampuan perang pasukan ini, dan tugas kami adalah mengalahkannya.
Jhoni pun segera memapahku berdiri. "Thanks Jhoni." Setelah aku benar-benar berdiri aku merasakan sakit lagi yang menggelanyar dari bahu kiriku,"Ahrrg...."
"Apakah anda tidak apa-apa Lead?" sorot mata Jhoni penuh dengan kekhawatiran melihat keadaanku.
Selama ini yang aku tahu dari seorang Jhoni adalah seseorang yang memiliki keberanian dan kepercayaan diri sangat tinggi. Meskipun umur Jhoni terbilang lebih tua dari umurku, dua puluh tahun, kira-kira dua tahun lebih tua daripada umurku, tetapi dia selalu menunjukkan rasa hormat padaku.
Tubuh Jhoni dan seluruh tentara pria lainnya lebih tinggi dari tubuhku, kira-kira lebih 5 cm. Aku selalu mendongak ke atas jika berbicara menatap muka mereka. Meskipun Jhoni menggunakan seragam pasukan AG - setelan berlengan panjang berwarna serba putih dengan corak warna perak pada bagian tengah depan dan pada sisi lengan kanan-kiri atas ditempel lambang Dephankam berwarna hitam berupa sebuah tetesan air pada huruf G yang tertidur - tetap saja bahunya kelihatan kekar. Tangannya juga kelihatan penuh dengan otot yang besar seperti seorang binaragawan dan bahkan lebih besar dari tanganku. Sorot matanya tajam dikelilingi oleh bulu mata serta alis yang tebal, sorot mata yang penuh keyakinan itu selalu memancar dari wajahnya yang hampir berbentuk kotak di bawah rambutnya yang ikal hitam.
Namun, sekarang sorot matanya benar-benar seperti seorang yang sudah putus asa. Aku pikir aku juga sama dengan dia–setidaknya untuk saat ini. 
Aku hampir selalu menanyakan kepada Jhoni, kenapa selalu memakai kalung dengan bandul sebuah batu berbentuk sebuah tetesan air dengan garis miring di tengahnya dan berwarna hitam. Namun, pertanyaan itu masih kusimpan hingga sekarang saat aku memandangi kalung itu dari dekat.
"Iya, aku tidak apa-apa," Aku berusaha untuk tidak peduli dengan sakit yang menusuk-nusuk bahu kiriku, meskipun rasanya seperti telah menembus dan merobek paru-paruku. "Ayo kita bergegas ke markas. Bagaimana dengan Co-Leader yang lain? Bagaimana dengan para Elder kita? Berapa pasukan kita yang masih tersisa?" Sebenarnya ini hanya sebuah pertanyaan basa-basi, sebab aku bisa mengakses melalui otakku berapa orang dan siapa saja yang masih hidup.
Setiap dari kami memang ada sebuah koneksi jaringan antar otak yang kami sebut sebagai Inter Brain Connection (IBC). Koneksi ini berfungsi untuk mengenali identitas masing-masing dari kami, dan menyimpan sebuah memori tentang seseorang sudah mati atau masih hidup. Teknologi ini juga berfungsi untuk installasi program karakter pribadi dan kemampuan dasar setiap orang di Kota Astana.
"Para Co-Leader dan Elder masih bertahan semua, kalau jumlah tentara yang tersisa aku tidak tahu pastinya berapa Lead. Anda lebih baik dalam berhitung dari pada aku Lead." sepertinya Jhoni lelah untuk mengakses beberapa database dalam IBC sehingga dia berbicara seperti itu.
"Aku pikir, kami benar-benar akan kehilangan anda Lead. Kami seolah-olah tidak ada harapan lagi. Sehingga banyak dari kami yang putus asa. Apalagi menghadapi serangan pasukan Keinquish yang menggila itu," Jhoni menghela nafas. " Tidak ada lagi yang ahli strategi perang dan motivator handal seperti anda Lead. Anda adalah satu-satunya harapan kami." lanjut Jhoni sambil berjalan dan tetap waspada pada sekeliling. Dia tetap memegang erat rifle M4A1 dengan kedua tangannya dan memposisikan pangkal senjata itu di bahu kanannya.
"Terima kasih atas pujiannya Jhoni, tapi sepertinya itu tidak penting sekarang. Keinquish sudah lebih baik dan berevolusi sekarang, aku tidak mengerti cara infeksi mereka terhadap pasukan kita. Seolah mereka tiba-tiba muncul dimana-mana, menerjang, menyerang tanpa ampun, bahkan mampu memperbaiki diri ketika kita hancurkan mereka."
Sambil berjalan aku memegangi bahu kiriku dengan tangan kanan. Sakitnya masih menggelenyar, tetapi aku hampir-hampir dapat melupakan rasa sakit itu.
Di kejahuan kulihat sisa-sisa tentaraku sedang berjalan menuju arah yang sama denganku, ada yang jalannya terhuyung-huyung namun tetap waspada dengan senjata mereka masing-masing.
"Aku pikir juga begitu Lead, Keinquish tidak terbaca lagi gerakannya. Strategi dan senjata mereka juga aneh, bahkan aku tidak berpikir mereka memiliki senjata yang bermacam-macam dan sebanyak itu. Padahal aku melihat mereka bahkan tidak membawa senjata. Bagaimana mungkin tangan-tangan kosong mereka menembakkan bola-bola api? Aku benar-benar frustasi kali ini Lead!" gerutu Jhoni sambil menendangkan kakinya yang berotot itu ke sebuah rifle yang tergeletak di tanah hingga terlempar jauh, sepertinya itu rifle bekas tentara AG.
"Aku juga merasa aneh dengan hal itu Jhoni," aku menatap dengan muram ke arahnya.
"Aku yakin kau punya jawaban untuk segala keanehan ini Lead, mungkin tidak sekarang. Tetapi aku yakin kau akan mendapat jawabannya segera, Lead. Anda berbeda dengan kami." Jhoni membalas tatapanku penuh dengan harapan.
Begitulah Jhoni, terlalu yakin dengan seseorang, padahal saat ini aku juga sedang frustasi. Bagaimana aku tidak frsutasi, baru kali ini aku terjebak dalam permainan pasukan Keinquish dan bahkan aku jatuh pingsan dan mungkin hampir mati dalam ledakan bom yang entah tiba-tiba meledak dalam radius seratus meter di depanku.
Tiba-tiba aku teringat pada saat bom itu meledak saat itu pula aku tertembak pada bahu kiriku. Lalu pandanganku menguning, buram, dan lalu gelap.
Aku tidak membalas pernyataan terakhir Jhoni. Bahkan kami hanya berjalan dalam kebisuan hingga sampai di markas kami kira-kira dalam waktu satu jam. Justru aku sedang memikirkan pernyataan terakhir Jhoni bahwa aku berbeda dari yang lainnya. Ya, aku Ryan Shagara dan aku berbeda dengan lainnya.
Markas pasukan AG terletak di luar daerah Keinquish. Selama ini sih tidak pernah diendus oleh pasukan Keinquish. Selain letaknya di bawah bukit Minast, markas ini dilengkapi dengan teknologi keamanan mutakhir yang mampu meledakkan kepala siapa saja yang masuk ke wilayah ini jika dia tidak masuk dalam database komputer kami sebagai tentara AG.
Markas ini selalu menenangkan dan membuatku merasa damai jika menatap megah bangunannya yang berbentuk trapesium dan berwarna hitam mengkilap setinggi tujuh lantai. Jika dilihat dari kejauhan, markas dan bukit Minast ini akan terlihat seperti sebuah bukit yang berongga hitam di bawahnya. Sebuah bukit yang angker karena nampak melayang-layang di atas lubang hitam yang mampu menyedot setiap orang yang mendekatinya. Mungkin orang-orang Keinquish beranggapan seperti itu sehingga mereka tidak pernah mendekat ke sini.
Setelah kami tiba di markas, aku segera masuk melalui pintu utama dan berjalan menuju ke kamar medis. Pintu masuk ke markas ini ada empat buah. Tiga pintu di bagian depan dengan pintu tengah adalah pintu utama dan paling besar. Biasanya orang-orang keluar-masuk lewat pintu tengah ini, sementara dua pintu lainnya sebagai jalan keluar masuk kendaraan tempur kami. Pintu yang keempat terletak di belakang markas, tepatnya di bawah bukit dan terhubung dengan lorong-lorong yang begitu banyak membentuk labirin di bawah bukit dengan salah satu ujung lorong menembus hingga ke balik bukit. Aku belum pernah ke sana, ke ujung lorong yg menembus bukit Minast ini, aku terlalu sibuk dengan mengatur strategi dan latihan perang untuk melawan pasukan Keinquish. Kalaupun ada waktu aku lebih memilih beristirahat daripada menelusuri labirin alih-alih bermain petak umpat di sana.
Seluruh markas ini dipenuhi dengan sensor pengenal identitas dan kamera cctv, kecuali di dalam kamar pribadi. Rasanya sungguh lucu jika di kamar pribadi juga diberi alat sensor dan kamera cctv, kamu akan bercinta dengan kekasihmu sementara teman-temanmu asyik menontonnya.
Setiap orang yang ingin masuk ke markas ini tidak perlu mengetuk pintu, menekan tombol, scan kartu identitas, atau scan iris mata. Jika kamu adalah anggota tentara AG, maka seluruh sensor di tempat ini akan mengenalimu hingga bagian terkecil dari tubuhmu–DNA. Dan sensor-sensor ini sangat baik, dia akan membukakan pintu untukmu, melaporkan kesehatanmu langsung berdengung di telingamu, mengirim makanan untukmu, dan banyak hal lain, tentunya jika kamu menginginkannya.
Setelah aku memasuki pintu utama, rasanya jiwaku kembali, seolah menginjak emperan surga di sini. Lantai dengan keramik putih mengkilap, dan dinding serta langit-langit yang menjulang tinggi berwarna putih. Bisa dibilang dalam gedung ini semua serba berwarna putih. Kesejukan dan keheningan di dalam sini menghilangkan rasa lelah dan letih. Tempat ini memang diprogram seperti itu–menjadi healer bagi kami. Rasanya aku tak ingin keluar dari gedung ini jika sudah berada di dalamnya.

Klik untuk menuju --> Bagian 2

Follow Me on Twitter

Pengunjung

Follow This Blog